Misteri Omah Lowo di Solo : Dari Rumah Terkutuk Jadi Heritage Batik Keris


Oleh : Maria Hermina

HOLOPIS.COM, JAKARTA - Di kawasan Laweyan, Kota Solo, berdiri sebuah bangunan tua yang menyimpan kisah panjang dan penuh misteri. Masyarakat mengenalnya dengan nama Omah Lowo yang berarti “Rumah Kelelawar”.

Nama itu bukan sekadar julukan, melainkan cerminan kondisi rumah yang pernah terbengkalai begitu lama hingga kelelawar menjadikan bangunan tersebut sebagai sarang mereka. Namun, bagi sebagian orang, kelelawar bukan satu-satunya penghuni yang menetap di sana.

Omah Lowo awalnya dibangun sekitar tahun 1920 oleh saudagar kaya keturunan Tionghoa bernama Shie Djian Ho. Ia memiliki tanah luas di Laweyan serta mengelola berbagai usaha, mulai dari penerbitan hingga pabrik es. Namun ketika situasi politik di Indonesia mulai berubah, sang pemilik kembali ke Belanda dan tak pernah kembali lagi. Sejak saat itu, rumah megah tersebut dibiarkan kosong, perlahan menua dalam kesunyian.

Seiring waktu, Omah Lowo berubah menjadi bangunan kosong yang ditinggalkan. Atapnya menghitam, catnya mengelupas, dan ruangan-ruangannya dipenuhi bayangan.

Kelelawar yang bersarang di langit-langit membuat suasana makin kelam. Warga sekitar sering kali merasa enggan lewat di depannya saat malam tiba. Bukan hanya karena gelapnya, namun karena rumah itu seolah memancarkan atmosfer yang berbeda seperti ada sesuatu yang memperhatikan dari balik jendela.

Cerita mistis pun mulai bermunculan. Beberapa warga mengaku mendengar suara langkah dari dalam rumah, padahal tidak ada siapa-siapa. Ada pula yang mengaku melihat bayangan seperti sosok perempuan melintas di antara lorong saat senja. Walaupun tidak ada kisah spesifik tentang penampakan yang benar-benar terdokumentasi, aura angker bangunan itu sudah cukup untuk membuat orang merinding sejak pertama melihatnya.

Namun perjalanan Omah Lowo tidak berhenti di situ. Pada dekade berikutnya, bangunan ini sempat digunakan sebagai Kantor Haji dan Kamar Dagang Kota Solo pada era 1980-an. Meski digunakan kembali, kesan misterinya tak pernah benar-benar hilang. Dinding-dindingnya seolah menyimpan sisa cerita masa lalu yang tidak terhapus begitu saja.

Beberapa tahun kemudian, langkah restorasi mulai dilakukan. Proses ini tidak sederhana karena tujuan utamanya bukan menghilangkan karakter lama rumah, melainkan menghidupkan kembali unsur sejarahnya. Material bangunan dipertahankan sebisa mungkin, bentuk asli ditinjau ulang, dan sentuhan baru dilakukan tanpa menghilangkan identitasnya.

Omah Lowo akhirnya bertransformasi menjadi “Rumah Heritage Batik Keris”, sebuah destinasi budaya yang memadukan sejarah, seni batik, dan arsitektur kolonial klasik. Dari rumah yang dulu terkesan menyeramkan, kini bangunan tersebut tampil elegan dan bernilai historis. Kelelawar tidak lagi menjadi simbol ketakutan, melainkan bagian dari cerita masa lalu yang membentuk karakter rumah ini.

Tampilan Utama