HOLOPIS.COM, JAKARTA – Di tengah bayang-bayang resesi dan isu turunnya 9,5 juta masyarakat kelas menengah, Pemerintah akhirnya memutuskan bahwa bantuan sosial (bansos) saja tidak cukup. Solusi yang digadang-gadang sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional? Ekonomi Kreatif.
Keputusan strategis ini mengemuka dalam Rapat Tingkat Menteri (RTM) antara Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) yang dipimpin Teuku Riefky Harsya dan Menko PM, Abdul Muhaimin Iskandar, di Kantor Kemenko PM, Jakarta, Selasa (4/11/2025).
Pertemuan ini menandai kolaborasi yang lebih terorkestrasi, menjadikan sektor kreatif sebagai benteng ekonomi untuk membuka lapangan kerja dan menarik kelas menengah yang terpuruk kembali naik kasta.
Menko PM Abdul Muhaimin Iskandar memaparkan bahwa strategi pengentasan kemiskinan ekstrem tidak lagi bisa ditempuh dengan cara konvensional. Ada gap besar antara target dan hasil, dan inilah yang coba dijembatani.
“Strategi penanggulangan kemiskinan tak cukup hanya dengan memberikan bantuan sosial, tetapi juga harus melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat,” tegas Menko PM.
Sebuah program revolusioner diluncurkan yaitu Program Miskin Ekstrem Langsung Kerja (MELLK). Program ini tidak hanya membedakan bantuan untuk keluarga produktif dan nonproduktif, tetapi secara ambisius menargetkan 10 ribu penerima bansos untuk disalurkan langsung ke pekerjaan formal seperti satpam, montir, waiter, atau profesi lainnya.
Paralel dengan itu, dukungan bagi pegiat ekraf difokuskan pada akses nyata berupa modal, teknologi, dan yang paling menarik, pemanfaatan aset-aset negara. Pusat bisnis UMKM dan Ekraf didorong untuk aktif menggunakan aset BUMN dan Pemerintah, layaknya Pos Bloc dan M Bloc Jakarta yang kini menjadi inkubator kreativitas.
Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya membenarkan krisis kelas menengah ini dan menegaskan peran Ekraf sebagai penopang utama. “Sebanyak 9,5 juta kelas menengah turun kasta sehingga ekonomi kreatif hadir menjaga stabilitas ekonomi lewat peluang kerja dan usaha kreatif,” jelas Menteri Ekraf.
Capaian investasi Ekraf memang mengagumkan. DKI Jakarta, misalnya, mengalami lonjakan investasi spektakuler, dari Rp18,14 triliun menjadi Rp25,97 triliun. Angka ini, menurut Menteri Ekraf, adalah bukti kinerja yang kuat. Investor kini tidak hanya mengejar pasar lokal, tetapi juga mencari daya saing regional hingga global.
Namun, data ini sekaligus menyisakan pekerjaan rumah besar yaitu peningkatan nilai investasi masih terpusat di Jakarta dan area Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, dan Jawa Timur).
Kemenko PM kini ditunjuk sebagai orkestrator nasional untuk memastikan kebijakan dari berbagai kementerian (termasuk Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Menteri UMKM Maman Abdurrahman, hingga Menteri Desa Yandri Susanto) bersatu padu, mengalirkan semangat transformasi ekonomi berbasis kreativitas hingga ke desa-desa.


