Waspadai “Toxic Productivity”, Produktif Berlebihan yang Justru Bisa Bikin Burnout


Oleh : Aisha Balqis Salsabila

HOLOPIS.COM, JAKARTA — Menjadi produktif tentu hal yang baik. Namun, ketika semangat untuk terus bekerja tanpa henti berubah menjadi obsesi, produktivitas justru bisa menjadi racun bagi diri sendiri.

Fenomena ini dikenal dengan istilah toxic productivity menjelaskan kondisi ketika seseorang merasa harus selalu produktif, bahkan di waktu seharusnya beristirahat.

Istilah ini kerap disamakan dengan workaholic atau kecanduan kerja. Bedanya, toxic productivity bukan hanya soal bekerja keras, tetapi juga dorongan tidak sehat untuk terus merasa berguna dengan cara bekerja sebanyak mungkin. Penderitanya akan merasa bersalah jika beristirahat atau tidak mencapai target tertentu, meski sudah bekerja keras.

Seperti yang dikutip Holopis.com penulis bisnis dan penulis buku Joy of Business, Simone Milasas, menjelaskan bahwa toxic productivity membuat seseorang fokus pada hal yang belum dikerjakan, bukan pada apa yang sudah dicapai.

“Ketika seseorang tidak bisa terus produktif, mereka merasa gagal,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan psikolog Kathryn Esquer, pendiri Teletherapist Network. Menurutnya, pola ini banyak muncul sejak masa pandemi. Pembatasan aktivitas membuat sebagian orang memiliki waktu luang lebih banyak. Namun alih-alih digunakan untuk beristirahat, mereka justru merasa harus bekerja lebih keras agar tetap merasa berguna dan berharga.

Padahal, menurut Esquer, toxic productivity dapat menyebabkan kelelahan mental (burnout), penurunan motivasi, bahkan gangguan hubungan sosial. Mereka yang terlalu terobsesi bekerja cenderung mudah frustasi dan cepat marah kepada orang di sekitarnya.

Cara Mengatasinya

Untuk menyikapi gejala toxic productivity, Sobat Holopis bisa memahami beberapa aspek penting berikut :

Sadari dan Akui Masalahnya
Langkah pertama adalah menyadari bahwa pola kerja berlebihan bukan hal sehat. Mengenali tanda-tanda kelelahan mental dan fisik penting agar seseorang bisa mengubah kebiasaannya lebih cepat.

Berikan Jeda untuk Beristirahat
Jangan terus bertanya, “Apa yang bisa saya kerjakan sekarang?” Setelah menyelesaikan pekerjaan, beri waktu bagi diri sendiri untuk istirahat, menikmati akhir pekan, atau melakukan aktivitas ringan yang tidak menimbulkan stres.

Utamakan Perawatan Diri
Luangkan waktu untuk aktivitas yang menenangkan, seperti berjalan pagi, menonton film, atau sekadar menikmati minuman favorit. Istirahat bukanlah bentuk kemalasan, tetapi bagian dari keseimbangan hidup.

Pisahkan Diri dari Identitas Pekerjaan
Belajarlah professional detachment untuk memahami bahwa pekerjaan bukan satu-satunya identitas diri. Dengan begitu, seseorang bisa tetap berkomitmen pada pekerjaannya tanpa kehilangan keseimbangan hidup pribadi.

Dengan memahami keempat aspek tersebut, semoga Sobat Holopis dapat terlepas dari kondisi toxic productivity, sehingga aktivitas harian tidak menjadi racun bagi diri sendiri, lingkungan bahkan masa depan kamu.

Tampilan Utama