Dorong Ekraf ke WTO, Kemenekraf dan Dubes Jenewa Jalin Kolaborasi Global


Oleh : Dede Suhadi

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya, secara resmi meluncurkan kreativitas, desain, dan kode-kode digital sebagai "Tambang Emas Baru" nasional. Bukan sekadar isyarat diplomasi yang manis, Ekraf kini diposisikan sebagai "mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional," sebuah lokomotif yang siap menggantikan dominasi komoditas tradisional.

Visi ambisius ini dipertajam dalam pertemuan strategis di Jakarta, Selasa (4/11/2025), dengan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (Dubes LBBP) RI untuk Jenewa, Sidharto Reza Suryodipuro.

Jenewa, sebagai pusat kekuatan multilateral yang menaungi World Trade Organization (WTO), kini ditetapkan sebagai gerbang utama untuk meluncurkan produk kreatif lokal ke panggung global.

"Jenewa ibarat literatur Internasional yang menyebut ‘the new mining’. Kita harus mengorkestrasi potensi ini. Ini adalah mesin pertumbuhan ekonomi yang baru," tegas Menteri Ekraf, menyoroti pergeseran filosofis ini.

Jika sebelumnya modal adalah uang dan aset fisik, kini modalnya adalah kecerdasan dan Kekayaan Intelektual (IP). Kementerian Ekraf bergerak cepat mematangkan ekosistem yang bertumpu pada data, SDM kompetitif, dan perlindungan IP yang adil. Untuk memperkuat pondasi ini, sebanyak 170 asosiasi, termasuk kerjasama strategis dengan Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia (WIPO), telah disinergikan.

Dubes Sidharto Reza Suryodipuro mendukung penuh revolusi ini, menekankan pentingnya edukasi diplomat. Ia menegaskan, para diplomat harus mengerti peran vital ekraf agar dapat mempromosikannya secara efektif di forum-forum Jenewa.

"Kreativitas ini menjadi semakin penting untuk generasi muda, mulai dari Artificial Intelligence (AI) hingga pengembangan level IP bisnis yang bisa menggaet investor," ujarnya.

Lonjakan kreativitas berpotensi menjadi euforia sesaat tanpa ekosistem yang solid. Oleh karena itu, Menteri Ekraf menekankan pendekatan Hexahelix, kolaborasi dinamis antara akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, dan media untuk memprioritaskan tujuh subsektor kunci.

Langkah ini juga memerlukan backing diplomatik yang kuat. "Kami juga butuh peran KBRI dalam hal regulasi sebagai bentuk komitmen konkret yang perlu dipahami bersama," ujar Menteri Ekraf, mengisyaratkan perlunya intervensi diplomatik untuk memastikan regulasi perdagangan global memihak produk kreatif Indonesia.

Puncak manifestasi visi kreatif Indonesia akan terjadi pada Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Ekraf Nasional, ketika Indonesia menjadi tuan rumah World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026).

Direktur Pengembangan Sistem Pemasaran dan Hubungan Kelembagaan, Radi Manggala, menyebut WCCE sebagai panggung kolaborasi total, dengan rencana strategis pre-event, during-event, hingga post-event. Konferensi dunia ini sekaligus menjadi bagian integral dari upaya menyiapkan Jakarta sebagai Kota Global, menjelang peringatan 5 Abad.

Dengan Jenewa sebagai arena pertarungan, IP dan AI sebagai senjata, dan WCCE 2026 sebagai panggung global, Indonesia tak hanya menukar komoditas, tetapi menukar citra dari negara sumber daya alam menjadi kekuatan adidaya berbasis ide.

Tampilan Utama