Alasan Gen Z Terpikat Nostalgia Tren 90an dan 2000an
HOLOPIS.COM, JAKARTA — Fenomena gaya hidup retro kembali menjadi sorotan di tahun 2025. Dari gaya berpakaian, musik, hingga teknologi, nuansa era 90-an dan awal 2000-an tampaknya sedang menguasai dunia anak muda, terutama kalangan Gen Z.
Di berbagai platform media sosial, mulai dari TikTok hingga Instagram, tren bernuansa vintage ini ramai diadaptasi dan menjadi identitas baru yang dianggap keren dan autentik.
Lantas, mengapa generasi yang tumbuh di era digital ini justru begitu tertarik dengan masa lalu?
Fashion Berputar, Gaya Lama Jadi Tren Baru
Tren fashion memang bersifat siklus. Kini, Gen Z mulai mengeksplorasi gaya klasik seperti celana low-rise, crop top, kacamata kecil, hingga jaket kulit oversize yang dulu populer di awal milenium. Mereka menilai gaya tersebut unik dan memiliki karakter kuat dibandingkan tren modern yang seragam.
Peran media sosial, khususnya TikTok, turut memperkuat kebangkitan tren ini. Banyak kreator konten menampilkan outfit retro dengan sentuhan modern yang kemudian viral dan diikuti jutaan pengguna.
Musik dan Film: Sentuhan Nostalgia yang Mengena
Musik dari era 90-an dan 2000-an seperti milik Britney Spears, NSYNC, Avril Lavigne, hingga Linkin Park kembali akrab di telinga generasi muda. Lagu-lagu ini banyak muncul di playlist Spotify maupun video pendek di TikTok.
Tak hanya itu, industri film juga ikut menghidupkan kembali kenangan lama lewat remake dan sekuel seperti Clueless dan The Matrix. Semua ini menciptakan suasana nostalgia yang kuat, baik bagi mereka yang pernah mengalaminya maupun bagi Gen Z yang baru mengenalnya.
Nostalgia Sebagai Pelarian dari Dunia Serba Cepat
Menurut pengamat budaya populer, tren nostalgia selalu muncul ketika masyarakat merasa lelah dengan kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan. Era 90-an dan 2000-an dianggap masa yang lebih sederhana, bebas, dan penuh warna. Bagi Gen Z, menikmati budaya lama memberikan rasa nyaman sekaligus kesempatan untuk “menemukan” identitas baru melalui gaya masa lalu.
Media Sosial dan Teknologi Retro Jadi Pendorong Utama
Kebangkitan tren ini juga dipicu oleh konten viral bertema nostalgia. Video seperti “Things Only 90s Kids Remember”atau “2000s Trends We Need to Bring Back” banyak beredar di media sosial, mengundang rasa penasaran generasi muda. Tak hanya itu, barang-barang seperti kamera analog, walkman, hingga mainan Tamagotchi kembali digandrungi.
Bagi banyak orang, benda-benda retro tersebut memiliki nilai sentimental dan estetika yang tak tergantikan oleh teknologi modern. Misalnya, foto dari kamera analog memberi nuansa otentik yang tidak bisa ditiru filter digital.
Tren yang Menyatukan Generasi
Menariknya, tren ini tak hanya jadi fenomena Gen Z, tetapi juga menjembatani nostalgia lintas generasi. Mereka yang tumbuh di era tersebut kini ikut berbagi cerita dan pengalaman, menciptakan ruang diskusi yang hangat antara generasi lama dan baru.
Dengan kombinasi antara kenangan, estetika, dan kreativitas digital, tren 90-an dan 2000-an diperkirakan akan terus berkembang, menjadi bukti bahwa nostalgia memang selalu punya tempat di hati generasi mana pun.