Kampus Bambu Turetogo Ngada Dorong Ekonomi Restoratif di NTT

12 Shares

HOLOPIS.COM, NGADA – Di jantung Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana tanahnya menjanjikan ketahanan, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf) Irene Umar tiba di Kampus Bambu Turetogo pada Kamis, 30 Oktober 2025.

Kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan penelusuran langsung ke “harta karun hijau” yang menjadi pionir ekonomi restoratif berbasis bambu. Turetogo kini menonjol sebagai narasi solusi yang menawarkan ketahanan ekonomi yang berakar kuat dan berkelanjutan bagi masyarakat Ngada, jauh dari gejolak pasca pandemi.

- Advertisement -Hosting Terbaik

Tinjauan Wamen Irene ini seperti menyaksikan sebuah revolusi diam-diam. Bambu, yang selama ini dianggap remeh, di tangan Yayasan Bambu Lestari (YBL) dan masyarakat lokal terutama kaum perempuan disulap menjadi motor penggerak “ekonomi restoratif.”

Wamen Irene terkesima, tidak hanya pada arsitektur, tetapi pada filosofi di baliknya. “Ini bukan sekadar bahan bangunan, tapi simbol kemandirian dan ketahanan ekonomi lokal,” ujarnya.

- Advertisement -

Fokus Wamen Ekraf Irene tak melulu soal uang, melainkan juga soal planet. Ia menyebut bambu sebagai “super-plant” yang menjalankan fungsi ganda menjadi penyokong kehidupan dan perekonomian.

“Negara kita agraris. Bambu, dengan daya serap air yang luar biasa, membantu menjaga irigasi lahan pertanian tetap optimal. Ini bukan sekadar manfaat finansial, tapi juga bagian dari menjaga keberlanjutan planet karena kita hanya punya satu rumah,” tegasnya.

Di Turetogo, Wamen Irene melihat langsung fasilitas pengolahan. Yang paling mencolok adalah peran sentral perempuan-perempuan Ngada yang menjadi pelaku utama, mengolah bambu menjadi produk inovatif dan bernilai ekonomi tinggi.

Kampus Bambu Turetogo adalah contoh nyata bagaimana konsep hexahelix. Sebuah kolaborasi antara pemerintah, akademisi, komunitas, pelaku usaha, media, dan masyarakat bekerja. Kekuatan bambu sebagai the new engine of growth diyakini mampu mendorong peningkatan kemampuan lokal dan dampak ekonomi jangka panjang.

“Saya senang melihat kesadaran dan semangat gotong royong di semua lini. Semua pihak ingin berbuat, hanya perlu ruang bersama untuk saling mendengar dan bergerak bersama. Inilah semangat ekonomi restoratif yang ingin kita wujudkan,” tutup Wamen Ekraf Irene.

Kunjungan ini bukan hanya tentang meninjau pabrik, melainkan tentang menyaksikan bagaimana bambu yang tumbuh dengan kokoh dan bersahaja telah menjadi jangkar bagi harapan hijau di NTT, membuktikan bahwa keberlanjutan dan kreativitas bisa tumbuh bersama dari akar rumput.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
12 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

holopis