HOLOPIS.COM, JAKARTA – Dalam tradisi masyarakat Indonesia, terutama di pulau Jawa, pocong adalah salah satu sosok hantu yang paling sering diceritakan dalam kisah mistis. Sosok ini digambarkan sebagai tubuh yang dibungkus kain kafan putih dari kepala hingga kaki, dengan simpul ikatan yang masih utuh.
Penampakan pocong kerap dihubungkan dengan roh yang masih terperangkap, tidak mampu berpindah ke alam akhirat. Cerita tentang pocong bukan hanya berkembang dari kengerian, tetapi juga dari makna spiritual yang melekat dalam kepercayaan masyarakat. Dalam Islam, jenazah dibungkus dengan kain kafan sebagai bagian dari ritual pemakaman.
Namun, dalam beberapa tradisi masyarakat Jawa, dipercaya bahwa ikatan kain kafan harus dilepas pada waktu tertentu setelah pemakaman. Pelepasan ini dianggap sebagai simbol bahwa roh almarhum telah dilepas dari keterikatan duniawi. Ketika prosesi ini terlewat, maka dipercaya roh tidak dapat pergi dengan tenang. Dari kepercayaan inilah sosok pocong diyakini terbentuk.
Dikutip Holopis.com dari buku Mistik Kejawen: Sinkretisme, Simbolisme, dan Sufisme dalam Budaya Jawa karya Suwardi Endraswara, pocong bukan hanya sekadar hantu penampakan putih, melainkan lambang dari roh gentayangan, yaitu roh yang masih terikat oleh dunia karena ada sesuatu yang belum selesai.
Dalam pandangan ini, pocong hadir sebagai simbol kegelisahan manusia, ketakutan akan kematian yang tidak sempurna, dan rasa bersalah yang tak terungkap. Maka, pocong tidak hanya menyeramkan secara fisik, tetapi juga memiliki kedalaman makna.
Banyak kisah rakyat menggambarkan pocong menampakkan diri di area pemakaman yang sepi. Konon, saat malam mencapai keheningan, pocong dapat terlihat berdiri diam di antara batu nisan, seolah sedang menunggu seseorang. Namun, ada pula cerita yang mengatakan bahwa pocong tidak hanya muncul di kuburan. Ia terkadang menampakkan diri di sekitar rumah atau jalanan desa yang lengang, terutama bila ia ingin menyampaikan sesuatu yang belum terselesaikan.
Orang-orang yang mengaku pernah melihat pocong sering menggambarkan aroma khas yang menyertainya bau tanah basah, bunga kamboja, dan kenanga. Kehadirannya juga disebut tak mengeluarkan suara langkah. Ada yang melihatnya melompat pelan karena ikatan kakinya masih terikat, namun kisah lain menyebut bahwa pocong dapat melayang tanpa menyentuh tanah.
Di beberapa desa, cerita penampakan pocong sering terjadi setelah berlangsungnya pemakaman. Masyarakat mempercayai bahwa roh yang “dipaksa pergi” sebelum waktunya cenderung lebih gelisah. Tidak jarang pula ada kisah tentang pocong yang muncul untuk memberikan tanda atau peringatan kepada keluarga, sebuah bentuk pesan terakhir sebelum ia benar-benar pergi.
Namun, keberadaan pocong juga dapat dimaknai sebagai refleksi bahwa manusia sering kali meninggalkan dunia dengan hal-hal yang belum selesai. Penyesalan, permintaan maaf yang belum terucap, atau hubungan yang belum terputus dapat menjadi beban yang diyakini menghambat perjalanan roh. Karena itu, dalam sebagian tradisi Jawa, keluarga yang ditinggalkan dianjurkan untuk mendoakan, memaafkan, dan melepaskan secara tulus.
Meski kisah pocong sering membuat bulu kuduk berdiri, ia juga menjadi pengingat bahwa kematian bukan sekadar perpisahan dengan dunia, tetapi perjalanan menuju ketenangan yang membutuhkan keikhlasan dari kedua sisi yang pergi, dan yang ditinggalkan. Pocong menjadi wajah dari kematian yang belum tuntas, sebuah ketakutan yang melekat dalam diri manusia.


