Benarkah Benda Mati dapat Ditempati Makhluk Halus?

7 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Dalam kepercayaan lama masyarakat Nusantara, benda mati tidak selalu dianggap benar-benar mati. Sejak masa pra Islam, sudah dikenal konsep animisme dan dinamisme  keyakinan bahwa roh bisa bersemayam di alam dan benda-benda sekitar manusia.  

Dalam penelitian oleh Diah Pitaloka (2008) tentang Semedi dalam Kebudayaan Jawa dijelaskan bahwa animisme merupakan bentuk pemujaan kepada roh, sementara itu dinamisme merupakan bentuk pemujaan kepada benda mati. Oleh sebab itu, benda-benda tertentu dipercaya memiliki energi spiritual yang kuat, bahkan menjadi tempat bersemayam makhluk halus.

- Advertisement -

Kepercayaan bahwa benda mati dapat ditempati oleh makhluk halus tidak hanya muncul di daerah tertentu. Dikutip Holopis.com dari Jurnal Moussons oleh Antonio J. Guerreiro berjudul Three Recent Publications about Indonesian Material Culture, Art, and Ethnography menyebutkan bahwa, dalam ritual masyarakat Indonesia, benda dianggap memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan roh. Sehingga benda mati seperti cermin, patung, hingga ukiran kuno tidak sebatas hiasan semata namun diyakini mampu menjadi wadah bagi energi roh atau entitas yang tersesat.

Guerreiro menyebutkan hal tersebut ditemukan dalam ritual masyarakat adat di Maluku dan Papua, dimana patung kayu atau ukiran sering dijadikan tempat tinggal sementara atau media perantara bagi roh leluhur saat upacara adat berlangsung.  Setelah upacara selesai, roh tersebut dipercaya akan meninggalkan patung, sebab wadah itu hanyalah tempat singgah sementara. Karena itulah benda semacam itu dianggap suci dan tidak boleh sembarangan dipindahkan atau dijual.

- Advertisement -

Patung yang dimaksud adalah Patung Karwar. Mengutip wikipedia Patung Karwar adalah patung kepercayaan leluhur suku Biak dan suku-suku lainnya. Patung Karwar dikatakan sakral karena di dalam kepala Patung Karwar terdapat tengkorak dari leluhur atau orang yang di sayangi. Patung Karwar juga merupakan tempat berkomunikasi dengan leluhur atau orang yang telah meninggal dunia. 

Sementara itu, dalam pandangan Islam dan masyarakat modern Indonesia, jin dipercaya mampu menempati benda atau bahkan mengubah bentuknya menjadi benda. Penelitian dari UIN Alauddin Makassar oleh Nur Annisa menyebutkan bahwa jin bisa menampakkan diri dalam berbagai wujud, termasuk menempati benda yang dianggap sakral atau keramat. 

Ibnu Taimiyah dalam kumpulan fatwanya menjelaskan bahwa jin bisa menjelma menjadi manusia maupun berbagai jenis hewan seperti ular, kalajengking, sapi, kambing, atau kuda. Sementara itu, ulama terkenal asal Mesir, Muhammad Mutawalli al-Sya’rawi dalam karyanya al-Sihr wa al-Hasad juga menyebutkan bahwa jin memiliki kemampuan untuk berubah wujud dalam berbagai bentuk.

Keyakinan-keyakinan inilah yang kemudian melahirkan beragam pantangan yang mungkin sering sobat Holopis dengar seperti larangan memungut benda asing di jalan, menatap cermin pada tengah malam, atau menyimpan barang antik tanpa mengetahui asal-usulnya. 

Semua kepercayaan itu berakar dari rasa takut bahwa benda-benda tersebut bisa saja menjadi tempat bersemayam makhluk tak terlihat.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
7 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Misteri Rumah Horor Darmo di Surabaya

Legenda Seram Jawara Sakti di Cipaganti Bandung

Legenda Shtriga, Penyihir Malam dari Albania

Legenda Teke-Teke, Hantu Jepang Korban Bullying

Misteri Pasar Hantu Gunung Lawu

Berita Terbaru