HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ada beberapa tantangan utama yang dihadapi ASEAN dalam upaya memperkuat kerja sama ekonomi kawasan. Salah satunya yang jadi tantangan krusial terkait perbedaan kapasitas antarnegara anggota.
Penilaian itu disampaikan ekonom Bhima Yudhistira. Menurut dia, integrasi perdagangan antarnegara ASEAN makin penting direalisasikan untuk perkuat kerja sama ekonomi di kawasan. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) itu mencontohkan perbedaan kondisi Indonesia dengan Singapura.
Bhima menyebut perbedaan Indonesia dan Singapura terlihat dari kemudahan birokrasi dan regulasi pendukung.
“Contohnya antara Singapura dengan Indonesia. Dari segi kemudahan berbisnis, kapasitas birokrasi, regulasi, itu juga berbeda. Ini perlu ada penyelarasan atau percepatan peningkatan kapasitas,” kata Bhima kepada awak media, Senin, (27/10/2025.
Dia mengatakan tantangan kedua yaitu Indonesia dengan praktik proteksi tersembunyi di sejumlah negara ASEAN terutama menyangkut sektor keuangan. Bhima bilang persoalan klasik itu yang masih belum selesai seperti sulitnya bank-bank Indonesia membuka kantor cabang di Singapura.
“Sementara bank dari Singapura bisa dengan mudah membuka cabang di Indonesia. Ini menunjukkan regulasi yang tidak berimbang,” jelas Bhima.
Lebih lanjut, dia menyampaikan perlu standardisasi kebijakan. Bagi dia, hal itu penting agar tak terjadi ketimpangan antarnegara ASEAN dalam menjalankan kebijakan ekonomi.
Kemudian, ia menyinggung tantangan ketiga yang masih jadi persoalan utama adalah korupsi. Praktik korupsi itu mempengaruhi persepsi investor.
Dijelaskan Bhima, investor pasti cenderung memilih negara yang memiliki indeks angka korupsi rendah. Sebab, faktor angka korupsi rendah jadi fondasi penting untuk membangun fasilitas produksi.
Dia menuturkan negara dengan persepsi angka korupsi tinggi berisiko kehilangan peluang investasi. Kondisi itu berpengaruh terhadap penegakan hukum dan kepastian regulasi. Maka itu, hukum dan regulasi yang kuat jadi prasyarat krusial dalam menciptakan iklim investasi yang sehat.
Lalu, ia menuturkan tantangan keempat yaitu kualitas sumber daya manusia (SDM) yang belum merata di kawasan.

