Gedung Putih Kirim Tim Elit ke Israel, AS Kawal Gencatan Senjata agar Tak Kacau Lagi!
HOLOPIS.COM, JAKARTA - Amerika Serikat (AS) terus mengawal proses gencatan senjata antara Israel dengan Hamas. Gencatan senjata itu masih rumit karena Israel sebelumnya masih melakukan serangan ke kamp Gaza.
Dikutip dari laporan ABC News, dalih Israel dengan menuduh Hamas yang melanggar lebih dulu kesepakatan gencatan senjata. Israel menuding Hamas sengaja menahan jenazah 13 sandera yang tewas selama masa penahanan sejak 7 Oktober 2023.
Adapun Hamas menyampaikan penjelasan pengembalian jenazah tersisa butuh Waktu karena parahnya kerusakan di Gaza.
Otoritas AS melalui tim elitenya turun tangan hingga terbang ke Tel Aviv, Israel. Para pejabat AS yang mendatangi Israel adalah Wakil Presiden AS JD Vance, Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff, dan menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner.
Kedatangan mereka untuk pertemuan tingkat tinggi dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Pertamuan itu untuk membahas gencatan senjata yang rumit antara Israel dan Hamas.
Manuver AS soal gencatan senjata Israel-Hamas ini dengan cara Menteri Luar Negeri Marco Rubio yang menunjuk Duta Besar AS untuk Yaman, Steven Fagin. Tugas Fagin yaitu memantau gencatan senjata di Gaza.
Implementasinya, Fagin bergabung dengan pimpinan militer operasi di Gaza, Letnan Jenderal Patrick Frank, dan 200 prajurit dari Komando Pusat AS. Para prajurit AS itu pilihan yang memiliki keahlian di bidang transportasi, perencanaan, keamanan, hingga logistik.
Rubio berjanji AS bakal mendatangkan lebih banyak diplomat, serta personel dari negara-negara mitra yang terlibat. Harapannya bisa mendukung gencatan senjata antara Israel dan Hamas.
Gencatan senjata antara Israel dan pejuang Palestina, Hamas kembali diberlakukan. Kali ini, kesepakatan itu berlaku mulai pada 10 Oktober.
Deklarasi gencatan senjata itu dilakukan di Sharm El-Sheikh, Mesir, pada 13 Oktober. Pihak mediator seperti AS, Turki, Mesir, dan Qatar hadir dalam proses negosiasi. Delegasi Israel dan Hamas juga hadir.
Deklarasi gencatan senjata itu diteken Presiden AS Donald Trump, Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani, dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
Dari kesepakatan gencatan senjata, Hamas mesti membebaskan seluruh 20 sandera yang masih hidup. 20 sandera itu ditahan Hamas di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023.
Nah, untuk Israel mesti membebaskan 1.718 tahanan Palestina dari Gaza. Lalu, 250 tahanan Palestina yang tengah jalani vonis berat juga mesti dibebaskan.
Adapun Hamas masih berupaya mengembalikan jenazah sandera yang meninggal dalam penahanan kepada Israel. Dari kesepakatan gencatan senjata, Hamas mesti mengembalikan seluruh 28 jenazah sandera yang tersisa.