HOLOPIS.COM, JAKARTA – Setiap tanggal 24 Oktober, dunia memperingati Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) momentum yang menandai berlakunya Piagam PBB pada tahun 1945, tonggak berdirinya organisasi internasional terbesar dan paling berpengaruh di dunia.
Dengan diratifikasinya piagam tersebut oleh mayoritas negara penandatangan, termasuk lima anggota tetap Dewan Keamanan, PBB resmi berdiri sebagai wadah global untuk menjaga perdamaian, keamanan, dan kerja sama antarbangsa.
Sejak saat itu, PBB telah menjadi simbol harapan dan kolaborasi internasional dalam mewujudkan dunia yang lebih adil dan damai.
Selama 78 tahun, organisasi ini memainkan peran vital dalam mengatasi berbagai krisis global dari perang dan kemiskinan, hingga perubahan iklim dan pandemi.
Melalui semangat “we the peoples” yang tertuang dalam pembukaan Piagam PBB, lembaga ini menegaskan kembali komitmen bahwa kekuatan sejati dunia terletak pada persatuan antarumat manusia, bukan pada perpecahan.
Namun di tengah tantangan zaman kini konflik geopolitik yang memanas, ancaman perubahan iklim, krisis kemanusiaan, dan ketimpangan sosial-ekonomi yang semakin lebar PBB menghadapi ujian terbesar dalam sejarah modernnya.
Dilansir Holopis.com dari laman resmi un.org, peringatan Hari PBB tahun ini menjadi ajakan bagi semua negara untuk menyatukan langkah, memperkuat solidaritas global, dan menghidupkan kembali semangat multilateralisme. Tak hanya antar pemerintah, tetapi juga melibatkan masyarakat sipil, dunia usaha, hingga generasi muda.
Hari PBB bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat bahwa tantangan global hanya bisa diselesaikan melalui kerja sama bersama. Dengan meneguhkan kembali nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kolaborasi lintas negara, PBB mengajak dunia untuk menatap masa depan yang lebih inklusif, aman, dan berkelanjutan.
“Persatuan bangsa-bangsa adalah janji yang harus terus dijaga,” demikian pesan utama peringatan tahun ini. Seruan ini menjadi pengingat bahwa di tengah perbedaan, harapan untuk dunia yang damai tetap menyala selama kita memilih untuk bersatu, bukan berpecah.

