HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kasus bunuh diri Mahasiswa Universitas Udayana (Unud) saat ini sedang menyita banyak perhatian masyarakat, terutama karena kasus dugaan perundungan yang menyebabkan mahasiswa bernisial TAS tersebut lompat dari lantai atas.
Fakta yang kemudian membuat semakin banyak masyarakat tercengang adalah fakta bahwa teman-teman kuliah TAS justru diduga mengejek dan membully jasadnya setelah lompat dari lantai atas.
Berikut ini Sobat Holopis, beberapa fakta kasus bunuh diri mahasiswa Unud.
1. Diejek Setelah Lompat
Beberapa fakta baru yang ditemukan dari kasus ini menemukan bahwa teman-teman kuliah TAS diduga melempar ejekan kepada TAS. Bahkan terpantau dari berbagai tangkapan layar yang saat ini viral di media sosial, beberapa mahasiwa yang ada di sebuah grup percakapan tampak mengejek dan menyepelekan aksi bunuh diri itu.
Bahkan ada yang mengetik beberapa komentar ejekan seperti ‘Baguslah,’ Oalah mati ya,’ dan juga ‘Nanggung banget kok bunuh diri dari lantau dua yak.
2. Banyak Mahasiswa Unud yang Minta Maaf
Alhasil, banyak mahasiswa Unud yang meminta maaf di hadapan Kamera karena nama mereka yang memberikan komentar ejekan sudah terlanjur viral di media sosial. Namun beberapa netizen berpendapat minta maaf saja tidak cukup, dan berharap agar mereka mendapatkan hukuman yang lebih berat lagi.
3. Dihukum dengan Ancaman Tidak Lulus
Sementara itu, pihak Universitas Udayana tidak tinggal diam dan berencana untuk memberikan hukuman. Pihak kampus Unud merekomendasikan agar para pelaku menerima nilai D, yang otomatis membuat mereka tidak lulus.
“Dari fakultas kemarin telah merekomendasikan prodi utnuk mi prodi untuk memberikan nilai D (tidak lulus) pada semua mata kuliah semester berjalan, karena soft skill merupakan salah satu komponen penilaian dalam perkuliahan,” kata Ketua Unit Komunikasi Publik Unud, Dewi Pascarini, dikutip Holopis.com, Jum’at (17/10).
4. Kronologi TAS Lompat
Sementara itu, saksi menyebutkan bahwa TAS bertingkah panik sambil memperhatikan suasana sekitarnya. Kemudian ia dia datang dari arah pintu lift dengan menggendong tas ransel.
Kepala Seksi Hubungan Masyarakat (Kasi Humas) Polresta Denpasar, Kompol I Ketut Sukadi, menjelaskan bahwa saksi juga merupakan salah satu mahasiswa Unud.
“Kurang lebih 15 menit kemudian datang korban dari arah pintu lift, dengan posisi menggendong tas ransel dan memakai baju putih. Terlihat seperti orang panik dan seperti melihat-lihat situasi sekitar kampus,” jelas Sukadi.
Tetapi sayangnya saksi tidak melihat TAS setelahnya atau secara jelas karena ia tidak mengenali TAS. Namun saksi mengingat TAS sempat duduk di kursi panjang yang berlokasi di barat kelas.
Tak lama dari situ, TAS melompat dari lantai empat dan membuat mahasiswa lain sekaligus petugas keamanan kampus berdatangan dan melakukan evakuasi. TAS pun dibawa ke Rumah Sakit Umum Pusat Prof Ngoerah, Denpasar.


