Selain itu, akademisi Universitas Indonesia (UI) Farizan Radhiya Yahya piun memandang terkait kualitas dan pencemaran air tanah di Jakarta bahwa wilayah pesisir, terutama Jakarta Barat, mengalami pencemaran yang signifikan akibat aktivitas industri dan pemanfaatan air tanah yang berlebihan. Kondisi ini berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat dan keberlanjutan sumber daya air.
“Berdasarkan indeks mutu air, pencemaran paling signifikan terjadi di Jakarta Barat dan wilayah pesisir. Kondisi ini memperburuk degradasi lingkungan dan kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Farizan menambahkan bahwa penanganan masalah air tanah memerlukan pendekatan berbasis data dan pemantauan rutin. Ia menekankan pentingnya sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat untuk memastikan pengelolaan air tanah yang berkelanjutan.
“Kerja sama lintas sektor sangat penting, termasuk pemantauan kualitas air secara berkala agar pengelolaan air tanah lebih efektif dan berkelanjutan,” jelas Farizan.
Lantas, perwakilan dari Baznas Bazis DKI Jakarta sekaligus Pengurus Tanfidz PWNU DKI Jakarta KH. Bahauddin pun menyoroti dampak sosial dan kebutuhan edukasi terkait penurunan muka tanah dan banjir rob di Jakarta.
Ia menyebutkan bahwa sebanyak 118 kelurahan di Jakarta Utara terdampak secara signifikan, dan fenomena ini menimbulkan risiko bagi kehidupan masyarakat serta infrastruktur kota.
“Jakarta menghadapi ancaman penurunan muka tanah yang serius, akibat ekstraksi air tanah berlebihan yang dapat mencapai 10 cm per tahun. Fenomena ini sudah berdampak pada 118 kelurahan di Jakarta Utara,” ungkap KH. Bahauddin.
Ia juga menekankan peran lembaga keagamaan dalam membantu masyarakat memahami dan menghadapi risiko tersebut. “Baznas Bazis DKI Jakarta siap bekerja sama dengan LPBI untuk program sosialisasi dan edukasi, agar masyarakat lebih memahami ancaman banjir rob dan langkah-langkah mitigasinya,” tambahnya.
Selanjutnya, Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI Jakarta Mohamad Yohan memaparkan sumber-sumber utama banjir di Jakarta dan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam penanggulangannya. Ia menjelaskan bahwa banjir di Jakarta terjadi karena kombinasi banjir kiriman, banjir rob, dan banjir lokal, yang memerlukan pendekatan terpadu agar mitigasinya efektif.
“Penyebab banjir di Jakarta ada tiga: banjir kiriman, banjir rob, dan banjir lokal. Penanganannya harus kolaboratif melalui konsep pentahelix, yang melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, dan organisasi lingkungan,” jelas Yohan.


