HOLOPIS.COM, CILACAP – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut banjir besar yang melanda Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, disebabkan oleh hujan ekstrem dengan intensitas sangat tinggi yang terjadi selama enam hingga tujuh jam sejak Minggu (12/10/2025) malam. Akibatnya, 15 kelurahan di wilayah perkotaan Cilacap terendam banjir dan ratusan warga harus mengungsi.
Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, mengatakan curah hujan tercatat mencapai 343 milimeter di wilayah perkotaan Cilacap termasuk kategori hujan ekstrem.
“Dari data pengamatan kami, curah hujan tertinggi mencapai 343 mm di Cilacap Kota, disusul Lengkong dan Jeruklegi dengan 312 mm,” kata Teguh di Cilacap, Senin (13/10/2025).
Menurut Teguh, hujan ekstrem ini dipicu oleh anomali suhu muka laut (SST) yang masih hangat, meningkatkan penguapan dan pembentukan awan hujan. Selain itu, kelembapan udara yang tinggi, kondisi atmosfer yang labil, serta faktor lokal turut memperparah intensitas hujan.
Ia mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, genangan air, dan tanah longsor, karena cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi dalam tiga hari ke depan.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Cilacap, Budi Setyawan, menyebut sebanyak 307 warga mengungsi setelah banjir melanda akibat jebolnya tanggul Kali Yasa.
“Banjir berdampak pada 65.094 rumah dan mengganggu aktivitas warga di sejumlah sekolah serta tempat ibadah. Meski demikian, tidak ada korban jiwa maupun luka-luka hingga Senin pagi,” ujarnya.
Banjir terparah terjadi di tiga kecamatan wilayah perkotaan Cilacap, yaitu Cilacap Utara, Cilacap Tengah, dan Cilacap Selatan. BMKG juga mencatat suhu udara di wilayah tersebut saat ini berkisar 25–32 derajat Celsius, sedikit meningkat akibat pergeseran gerak semu matahari ke selatan Khatulistiwa.


