Polisi Klaim Tangkap Bjorka, Data 341 Ribu Anggotanya Malah Bocor

45 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Polda Metro Jaya akhirnya buka suara terkait dugaan peretasan data pribadi 341 ribu anggota Polri yang diklaim dilakukan oleh peretas terkenal, Bjorka. Isu ini mencuat setelah polisi menangkap seseorang berinisial WFT di Minahasa, Sulawesi Utara, yang disebut-sebut sebagai sosok di balik nama Bjorka.

Namun, penangkapan tersebut justru memicu gelombang baru di dunia maya. Pakar keamanan siber Teguh Aprianto melalui akun X pribadinya, @secgron, mengungkap bahwa data milik ratusan ribu anggota Polri diduga telah bocor dan disebarluaskan di forum peretasan internasional.

- Advertisement -Hosting Terbaik

Dalam unggahannya, Teguh menjelaskan bahwa data yang dibocorkan mencakup nama lengkap, pangkat, satuan tugas, nomor telepon, hingga alamat email para personel Polri. Ia menilai langkah polisi yang buru-buru mengklaim telah menangkap Bjorka justru menjadi pemicu munculnya aksi balasan dari peretas tersebut.

“Polisi mengklaim telah menangkap Bjorka. Padahal yang ditangkap itu cuma faker alias peniru,” tulis Teguh.
Tak lama setelah unggahan itu, akun yang diduga milik Bjorka muncul kembali dan mengunggah file berisi 341 ribu data anggota Polri sebagai bentuk pembalasan.

- Advertisement -
unggahan teguh tarkait bjorka
Unggahan Teguh Aprianto melalui akun X pribadinya, @secgron.

Menanggapi hal tersebut, pihak Polda Metro Jaya memastikan tengah melakukan penelusuran mendalam terhadap kebenaran data yang beredar. “Kami sedang melakukan verifikasi terhadap data tersebut. Jika benar ada kebocoran, akan kami tindaklanjuti sesuai prosedur hukum,” ujar perwakilan Humas Polda Metro Jaya.

Pihak kepolisian juga menegaskan bahwa penangkapan WFT masih dalam tahap pemeriksaan dan belum dapat disimpulkan keterlibatannya dalam kasus kebocoran data tersebut.

Kasus ini kembali membuka perdebatan publik soal keamanan siber di institusi negara, mengingat sebelumnya Bjorka juga pernah mengklaim membocorkan data milik instansi pemerintah lain. Para ahli menilai insiden ini menjadi alarm keras bagi lembaga penegak hukum untuk memperkuat sistem keamanan digital mereka agar tidak lagi menjadi sasaran empuk serangan hacker.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
45 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

holopis