Revolusi Kota Tua dari Warisan Sejarah Kolonial Menuju Episentrum Kreatif Jakarta


Oleh : Dede Suhadi

JAKARTA - Lupakan sejenak Kota Tua yang hanya sekadar museum dan latar foto. Jakarta sedang mempersiapkan babak baru bagi kawasan bersejarah ini, menjadikannya bukan hanya simbol cagar budaya, tetapi juga laboratorium inspirasi bagi ekonomi kreatif.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf), Irene Umar, memastikan bahwa revitalisasi Kota Tua sedang digarap dengan fondasi kolaborasi yang belum pernah ada sebelumnya. Mulai dari Bappeda DKI, para penjaga roh sejarah dari Tim Ahli Cagar Budaya, hingga Bank Mandiri sebagai pemilik aset bangunan ikonis, semua duduk bersama merancang blueprint jangka panjang.

“Ini bukan sekadar perbaikan bangunan, melainkan upaya mengoptimalkan aset budaya bangsa. Harapannya, kawasan ini akan menjadi contoh sempurna bagaimana pelestarian sejarah bisa bersinergi dengan pengembangan ekosistem kreatif yang semua digerakkan oleh kecintaan yang sama terhadap Kota Tua,” ujar Wamen Ekraf.

Konsep revitalisasi yang diusung sangat ambisius, memadukan urban renewal dengan pendekatan Transit Oriented Development (TOD). Artinya, Kota Tua tidak hanya akan mudah diakses dengan transportasi publik (sejalan dengan upaya MRT Jakarta), tetapi juga akan bertransformasi menjadi ruang kota yang hidup dan dinamis.

Kepala Bappeda DKI Jakarta, Atika Nur Rahmania, melihat momentum ini sejalan dengan ulang tahun Jakarta yang ke-500 dua tahun mendatang. "Ini seperti ekosistem yang digerakkan oleh passion. Kami ingin memastikan nilai sejarah tetap terjaga sekaligus menjadi ruang hidup baru bagi ekonomi kreatif," jelas Atika.

Inilah bagian yang paling menarik bagi para traveler dan penikmat seni, arsitek sekaligus perwakilan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB), Cosmas Gozali, menegaskan potensi besar industri kreatif dalam mengubah wajah kawasan.

“Lihat saja West London, Shanghai, hingga Brooklyn yang dulunya rawan kini jadi kawasan termahal. Hal yang sama bisa terjadi di Kota Tua. Gudang-gudang kosong berpotensi diubah menjadi studio seni, kafe unik, atau ruang co-working yang menarik wisatawan global,” kata Cosmas.

Lorong-lorong sunyi di Kota Tua nantinya akan segera dipenuhi denyut nadi aktivitas anak muda dan seniman. Dalam langkah menapaki jejak sejarah dengan visi masa depan, agenda survei para pemangku kepentingan ini sekaligus menjadi bocoran 'rute wajib' yang akan segera mendapatkan wajah baru di Kota Tua.

Peninjauan difokuskan pada tiga lokasi utama, yaitu Museum Mandiri, sebuah bangunan megah yang akan menjadi lokasi TOD Forum 2025 dan menandai peranannya sebagai titik awal integrasi transportasi dan kreativitas.

Kemudian Gedung Kalibesar Barat, sebuah area dengan deretan bangunan kolonial yang siap dihidupkan kembali sebagai destinasi seni. Serta Gedung Arsip Fatahillah, yang diproyeksikan menjadi ruang ikonik baru setelah direvitalisasi dari bangunan tak terpakai menjadi pusat interaksi.

Revitalisasi ini didorong oleh visi bahwa Kota Tua harus menjadi aset yang bermanfaat ganda yaitu menjaga masa lalu sambil merayakan masa kini. Ketika revitalisasi ini rampung, Kota Tua tidak hanya akan menjadi destinasi sejarah dan budaya, tetapi juga panggung utama bagi inovasi dan kreativitas Indonesia di mata dunia.

Tampilan Utama