Sikapi Momentum Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober bagi Milenial dan Gen Z


Oleh : Muhammad Ibnu Idris

JAKARTA - Setiap tanggal 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila sebagai momentum refleksi nasional atas peristiwa sejarah kelam yang menguji persatuan dan ideologi bangsa.

Peringatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan pengingat bahwa Pancasila adalah fondasi yang menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bagi generasi milenial dan Gen Z—kelompok yang tumbuh dalam era globalisasi, keterhubungan digital, dan budaya instan—menghargai momen ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk menguatkan identitas kebangsaan.

Perspektif Nasionalisme: Menanamkan Jiwa Cinta Tanah Air

Generasi muda saat ini hidup dalam dunia tanpa batas. Akses informasi, hiburan, dan gaya hidup global begitu mudah masuk ke ruang pribadi melalui gawai di genggaman.

Namun, justru di tengah derasnya arus globalisasi itulah, semangat nasionalisme harus terus dipupuk. Menghargai Hari Kesaktian Pancasila berarti menempatkan Pancasila sebagai kompas moral dalam mengambil keputusan, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial.

Nasionalisme modern tidak lagi semata ditunjukkan lewat simbol fisik, tetapi melalui kontribusi nyata: menjaga persatuan di ruang digital, melawan hoaks yang memecah belah, serta menunjukkan kebanggaan terhadap produk dan karya bangsa sendiri.

Perspektif Sosiologi: Membangun Solidaritas dan Kohesi Sosial

Dalam kacamata sosiologi, peringatan 1 Oktober memberi ruang refleksi bagaimana Pancasila berfungsi sebagai perekat sosial di tengah keberagaman. Generasi milenial dan Gen Z dikenal sebagai kelompok yang terbuka, adaptif, dan multikultural.

Peringatan ini bisa dijadikan ajang untuk memperkuat solidaritas sosial—menghargai perbedaan agama, etnis, dan pandangan politik tanpa harus terjebak dalam konflik.

Sikap saling menghormati dan empati yang lahir dari pemahaman nilai-nilai Pancasila menjadi benteng menghadapi polarisasi sosial yang kerap diperparah oleh media sosial.

Perspektif Politik: Menjadi Generasi Melek Demokrasi

Hari Kesaktian Pancasila juga menjadi momentum bagi anak muda untuk lebih memahami dinamika politik bangsa. Generasi milenial dan Gen Z adalah pemilih terbesar dalam setiap kontestasi demokrasi, sehingga peran mereka sangat menentukan arah kebijakan negara.

Menghargai peringatan 1 Oktober bukan hanya mengenang sejarah, tetapi juga menghidupkan kesadaran politik yang sehat—menggunakan hak pilih dengan bijak, mengawasi jalannya demokrasi, serta menolak politik identitas yang merusak persatuan.

Pancasila harus menjadi rujukan dalam menilai visi dan tindakan politik, bukan sekadar jargon.

Perspektif Kebudayaan: Menyemai Kearifan Lokal di Era Modern

Kebudayaan adalah wajah bangsa yang menyatukan identitas kolektif. Dalam konteks Hari Kesaktian Pancasila, generasi muda dapat belajar bagaimana nilai gotong royong, musyawarah, dan toleransi yang menjadi bagian dari budaya lokal sejalan dengan nilai-nilai Pancasila.

Menghargai momentum ini berarti juga merawat budaya bangsa agar tidak tergerus modernitas. Musik, seni, film, hingga konten kreatif bisa menjadi medium baru untuk menyuarakan semangat kebangsaan dengan gaya yang relevan bagi generasi digital.

Perspektif Teknologi: Mengaktualisasikan Pancasila di Ruang Digital

Generasi milenial dan Gen Z adalah digital native. Dunia maya bukan sekadar tempat berinteraksi, tetapi juga ruang pertempuran ideologi. Di sinilah tantangan sekaligus peluang untuk menjadikan Pancasila tetap hidup dan kontekstual.

Untuk menghargai Hari Kesaktian Pancasila bisa diwujudkan dengan menciptakan konten positif yang membangun persatuan, memanfaatkan teknologi untuk kampanye literasi kebangsaan, serta menolak ujaran kebencian yang memecah belah. Dengan teknologi, Pancasila tidak hanya diingat, tetapi juga dihidupkan dalam praktik nyata setiap hari.

Nah, momentum Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober bukanlah perayaan formalitas, melainkan ruang perenungan dan aktualisasi nilai luhur bangsa. Bagi generasi milenial dan Gen Z, menghargai peringatan ini berarti menjadikan Pancasila bukan hanya sebagai hafalan, melainkan sebagai pedoman hidup yang relevan dalam menghadapi tantangan zaman.

Dengan semangat nasionalisme, solidaritas sosial, kesadaran politik, kebanggaan budaya, dan pemanfaatan teknologi, generasi muda dapat memastikan bahwa Pancasila tetap menjadi benteng kokoh dalam menjaga keutuhan Indonesia, kini dan di masa depan.

Tampilan Utama