“‘Melihat situasi ini kami minta ke anak-anak untuk tetap rileks. Selama persiapan, kita secara repetisi main bareng dan uji coba gak ada, jadi kita minta anak-anak untuk rileks dan pada saat bola time out, kita minta ke pemain melakukan regrup dan komunikasi untuk penyelesaian dan next play mau melakukan apa,” terangnya.
Hal ini, lanjut Edo, karena pada dasarnya, perbedaan 3×3 dengan 5on5 ini adalah penyelesaian situasi pada saat di pertandingan.
“Sebagai coach gak bisa deliver secara direct ke pemain. Yang bisa kita lakukan adalah memberikan brief terkait situasi-situasi yang akan terjadi, supaya pemain tahu langkah-langkahnya seperti apa,” ucapnya.
“Kita sangat bersyukur khususnya tim putri bisa eksekusi dengan baik dan tim putra juga bisa lakukan hal yang sama, tapi memang ada beberapa poin yang menjadi catatan sehingga tidak bisa tampil maksimal meski bisa sapu bersih di babak kualifikasi,” ucapnya.


