JAKARTA – Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengatakan bahwa sejauh ini negara-negara di dunia seperti hanya berpura-pura peduli dengan kemerdekaan Palestina dan pembebasan mereka dari brutalitas dan genosida yang selama ini dilancarkan Israel kepemimpinan Benjamin Netanyahu.
“Dunia tidak dapat terus berpura-pura bahwa solusi yang masuk akal akan mungkin selama Israel tetap berada di bawah kepemimpinan rezim Benjamin Netanyahu. Pemerintahannya telah mengawasi kampanye genosida yang telah melewati ambang kejahatan paling serius bagi umat manusia,” kata Anies Baswedan dalam tweetnya seperti dikutip Holopis.com, Selasa (30/9/2025).
Jika memang dunia peduli dengan Palestina, maka langkah konkretnya bukan sekadar melakukan boikot dan pengecaman secara massal kepada Israel, melainkan melakukan langkah konkret untuk memaksa zionis Israel menghentikan seluruh aktivitas genosida yang dilakukan kepada Palestina, khususnya penduduk Gaza.
“Hingga akuntabilitas ditegakkan dan jalan yang ada saat ini diubah, prospek perdamaian sejati akan tetap terhambat. Saat ini, prioritas paling mendesak bukanlah negosiasi abstrak, melainkan penghentian segera genosida yang sedang berlangsung di Gaza dan pencabutan blokade tidak manusiawi yang mencekik rakyatnya,” ujarnya.
Mantan rektor Universitas Paramadina ini pun menyampaikan, bahwa Komisi Penyelidikan Internasional Independen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Wilayah Palestina yang diduduki telah menetapkan bahwa Israel melakukan genosida di Gaza. Tidak ada dasar moral atau hukum untuk melunakkan pernyataan ini.
Sementara itu, Mahkamah Pidana Internasional telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
“Komunitas internasional harus mengakui bahwa kata-kata kecaman saja tidak lagi cukup. Keadilan harus ditegakkan. Langkah logis selanjutnya adalah memastikan bahwa kejahatan-kejahatan ini dituntut di hadapan pengadilan internasional,” tandasnya.
Tanpa itu semua, Anies pun menilai langkah apa pun akan menjadi omong kosong untuk menegakkan hukum internasional dan martabat manusia ke depan. Terlebih saat ini beberapa negara di dunia Barat telah mulai mengakui Negara Palestina, sebuah tindakan yang menurutnya sangat terlambat.
Pun demikian, hal ini tidak boleh menjadi titik akhir. Bahwa langkah tegas berikutnya adalah bagaimana mengamankan keanggotaan penuh Palestina di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang menegaskan hak-hak rakyatnya dalam keluarga bangsa-bangsa. Setelah genosida dihentikan, barulah mungkin dapat dilakukan pembahasan tentang bagaimana mencari titik temu untuk mewujudkan perdamaian dunia yang diinginkan.
“Hanya setelah menghentikan genosida, mengamankan keadilan bagi para korban, dan memastikan tempat Palestina yang selayaknya dalam tatanan internasional, kita dapat mulai berbicara tentang solusi yang masuk akal dan langgeng untuk semua,” tukas Anies.
Terakhir, Anies Rasyid Baswedan menyebut bahwa sejauh ini catatan yang dapat diberikan kepada negara-negara di dunia adalah, bagaimana mereka masih belum mampu mewujudkan keadilan dalam sistem internasional dengan masih terjadinya aksi-aksi genosida yang dilakukan Israel kepada Palestina.
“Sampai saat itu, kredibilitas sistem internasional itu sendiri berada di ujung tanduk. Karena bukan hanya Gaza yang dikepung, tetapi juga prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan yang menjadi sandaran masa depan kita bersama,” pungkasnya.


