Kini PR Berperan untuk Reputasi Bisnis Pariwisata di Era ESG

30 Shares

JAKARTA – Peran Public Relations (PR) di industri perhotelan kini tak lagi sekadar menjual kamar dan fasilitas mewah. Mereka baru saja mendapat mandat strategis dari pemerintah yaitu menjadi ujung tombak narasi pariwisata berkelanjutan demi menyelamatkan reputasi bisnis dan mendukung target lingkungan nasional.

Dalam H3 Summit 2025 di Jakarta, Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Rizki Handayani, secara tegas menunjuk Himpunan Humas Hotel (H3) Indonesia sebagai garda terdepan dalam mengomunikasikan praktik ramah lingkungan.

- Advertisement -Hosting Terbaik

“Hotel adalah tulang punggung dan kesan pertama wisatawan terhadap pariwisata Indonesia. Oleh karena itu, humas hotel harus bertransformasi. Tugas mereka kini adalah membangun narasi positif yang berprinsip berkelanjutan, bukan hanya sekadar produk hotel,” ujar Rizki.

Tuntutan untuk berubah bukan tanpa alasan. Rizki menekankan bahwa Indonesia memegang komitmen ambisius yaitu menargetkan pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar pada tahun 2030 dan mencapai emisi nol bersih (net zero emission) pada tahun 2060 atau lebih cepat. Sektor pariwisata, termasuk hotel, harus berkontribusi langsung pada target ini.

- Advertisement -

Inilah mengapa peran juru bicara hotel menjadi krusial. Mereka bertugas menyuarakan inisiatif konkret, mulai dari program Kemenpar seperti penanganan food waste dan food loss, implementasi Blue, Green, dan Circular Economy (BGCE), hingga penghargaan Green Hotel.

“Pasar kini sangat selektif. Mereka akan mencari dan memilih hotel-hotel yang telah memenuhi kriteria green hotel atau aspek-aspek SDGs,” tegas Rizki, sekaligus menjanjikan prioritas pameran bagi usaha pariwisata yang telah menerapkan praktik berkelanjutan.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi Sukamdani, yang hadir dalam acara tersebut, mengamini tantangan ini. Menurutnya, keberlanjutan tidak hanya tentang kelestarian, tetapi juga efisiensi energi dan ketahanan industri.

Mengambil contoh dari Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta yang telah memiliki sistem pengelolaan limbah terstruktur, Hariyadi menekankan pentingnya transparansi, etika bisnis yang adil, dan tata kelola yang baik (bagian dari prinsip ESG).

Ketua Umum H3, Yulia Maria, menutup diskusi dengan pernyataan komitmen, menegaskan bahwa ESG (Environmental, Social, Governance) akan menjadi program berkelanjutan organisasi.

“Kami, sebagai tenaga humas perhotelan Indonesia, siap menjadi tulang punggung dalam mengomunikasikan narasi yang baik demi keberlanjutan pariwisata Indonesia,” tutup Yulia. Acara ini pun menandakan bahwa era Green PR telah resmi dimulai. Ke depan, reputasi sebuah hotel akan semakin diukur dari seberapa autentik dan transparan mengomunikasikan komitmennya terhadap planet dan masyarakat.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
30 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

holopis