Kasus HIV Aids di Sulsel Mengkhawatirkan

54 Shares

MAKASSAR – Untuk mendeteksi kasus HIV Aids di Masyarakat, pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) terus memperkuat upaya deteksi melalui jaringan puskesmas dan rumah sakit.

Langkah ini diharapkan meningkatkan akurasi penemuan kasus sekaligus memperluas akses pengobatan bagi orang dengan HIV (ODHIV) di Sulsel.

- Advertisement -

Menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Sulsel, Muhammad Yusri Yunus, data kasus HIV provinsi bersumber dari Sistem Informasi HIV/AIDS (SIHA) yang tingkat akurasinya cukup tinggi.

Dari Januari hingga Agustus 2025, penemuan kasus baru mencapai sekitar 1.100 orang yang terinveksi HIV Aids di Sulsel.

- Advertisement -

“Angka kita di tahun 2025 pergerakannya mendekati di tahun 2024. Karena tahun ini kita sudah pada posisi di bulan Agustus. Dari Januari, data yang masuk di kami itu cukup signifikan angka penemuan kasusnya,” jelas Yusri, dikutip Jumat (26/9).

Salah satu upaya yang dijalankan adalah peningkatan kapasitas sumber daya manusia di puskesmas, rumah sakit, sektor swasta, maupun instansi pemerintah.

Hingga saat ini, hampir seluruh tenaga kesehatan yang telah dilatih mengenai screening HIV telah memahami prosedur dan tata laksananya dengan baik.

Yusri menambahkan pergerakan tenaga kesehatan membuktikan efektivitas program skrining HIV yang diterapkan. Tingginya jumlah penemuan kasus menjadi indikator bahwa proses deteksi berjalan dengan baik.

“Ini merupakan apresiasi kami dari pemerintah provinsi melintas kesehatan terhadap nakes, karena penguatan terhadap layanan kita mulai dari screening, penemuan kasus sampai kepada proses pengobatan itu sendiri berjalan dengan baik,” kata Yusri.

Sebagai informasi, data Dinkes Sulsel dari Januari hingga Agustus 2025, tercatat 1.431 kasus HIV. Kota Makassar menempati posisi tertinggi dengan 563 kasus, disusul Kabupaten Gowa (119), Kota Palopo (79), Kabupaten Bone (46), dan Kabupaten Toraja Utara (42).

Hampir seluruh kabupaten/kota di Sulsel melaporkan kasus HIV, meski jumlahnya lebih rendah. Selain kelima daerah tersebut, Kota Parepare melaporkan 41 kasus, Kabupaten Pinrang 33, Kabupaten Sidrap 32, Kabupaten Bulukumba dan Jeneponto masing-masing 30.

Selanjutnya Kabupaten Takalar 25, Kabupaten Luwu dan Tana Toraja masing-masing 22, Kabupaten Luwu Timur 19, dan Kabupaten Wajo 16 kasus.

Kemudian, Kabupaten Bantaeng dan Sinjai masing-masing 13 kasus, Kabupaten Soppeng dan Maros 12 kasus, Kabupaten Barru 10, Kabupaten Kepulauan Selayar 11, Kabupaten Pangkep 9, Kabupaten Luwu Utara 8, serta Kabupaten Enrekang 7 kasus.

“Angka penemuan tertinggi terjadi karena HIV adalah penyakit menular. Semakin tinggi populasi, semakin tinggi potensi penularannya. Dari Januari hingga Agustus 2025, Kota Makassar mencatat jumlah kasus tertinggi karena populasi penduduk yang tinggi,” jelasnya.

Sebagian besar kasus terjadi pada laki-laki (74 persen), sementara perempuan tercatat 26 persen. Kelompok usia produktif 25-49 tahun mendominasi (51 persen), diikuti remaja 15-24 tahun (37 persen).

Anak di bawah 15 tahun dan kelompok usia di atas 50 tahun masing-masing mencatat 7 persen dan 5 persen dari total kasus.

Faktor risiko tertinggi tetap pada kategori Lelaki Seks Lelaki (LSL) dengan 572 kasus. Penyakit TBC menjadi penyerta yang cukup tinggi, tercatat pada 162 kasus.

Faktor risiko lain meliputi waria (42), pekerja seks perempuan (22), ibu hamil (54), pelanggan pekerja seks (59), pasangan ODHIV (52), serta populasi umum/lain-lain (200).

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
54 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru