Politisi Bermental Rampok Jadi Ancaman Serius bagi Demokrasi Indonesia

15 Shares

JAKARTA – Founder Restorasi Jiwa Indonesia, Syam Basrijal, melontarkan kritik keras terhadap fenomena politikus yang hanya menjadikan demokrasi sekadar ajang untuk mencari kekuasaan demi bisa memperkaya diri, bukan untuk mengabdi kepada rakyat sesuai amanat konstitusi.

Menurutnya, politik seharusnya lahir dari semangat pengabdian dan menjadi jalan mulia dalam membangun bangsa. Namun kenyataannya, ada segelintir politikus yang justru menunjukkan perilaku sebaliknya.

- Advertisement -

“Politikus bermental rampok hadir bukan untuk melayani, melainkan untuk menjarah. Demokrasi dijadikan pintu emas untuk memperkaya diri, bukan sebagai wadah suci menjaga kepentingan rakyat,” kata Syam Basrijal dalam rilisnya, Sabtu (20/9/2025).

Syam menilai, janji-janji kampanye yang diucapkan sering kali hanya mantera pemikat hati rakyat. Tetapi ketika kursi kekuasaan sudah digenggam, orientasi yang muncul bukan pelayanan, melainkan kerakusan.

- Advertisement -

“Mental rampok ini tidak mengenal kata cukup. Mereka memandang kekuasaan sebagai lahan garapan, dan anggaran negara sebagai kue rampasan yang harus diperebutkan,” tegasnya.

Fenomena itu, lanjut Syam, sering terselubung di balik program-program yang tampak mulia. Infrastruktur dibangun namun anggarannya membengkak karena adanya komisi. Regulasi disusun, tetapi lebih berpihak pada kepentingan kelompok daripada rakyat.

Ia menyebut praktik ini telah mengubah wajah demokrasi dari rumah kebersamaan menjadi sekadar panggung sandiwara.

Lantas, Syam juga menyoroti dampak buruknya terhadap moral bangsa. Rakyat terbiasa disuguhi kebohongan, sementara generasi muda dipaksa belajar pelajaran keliru tentang bagaimana kekuasaan dijalankan.

“Untuk berkuasa harus pandai menipu, untuk bertahan harus siap menyuap, dan untuk naik pangkat harus mampu menggadaikan integritas. Inilah virus yang pelan-pelan melumpuhkan bangsa,” ungkapnya.

Kepercayaan Rakyat yang Dicuri Demi Amankan Diri dan Oligarki

Menurutnya, kejahatan politikus bermental rampok tidak sekadar soal uang yang dirampas. Lebih dari itu, mereka mencuri kepercayaan rakyat.

Padahal, kepercayaan adalah modal sosial yang sangat berharga. Sekali retak, akan sulit memulihkannya.

“Politik akhirnya hanya dianggap permainan kotor, jauh dari panggilan mulia untuk melayani kehidupan bersama,” tutur Syam Basrijal.

Syam juga mengingatkan bahwa fenomena ini kerap melahirkan lingkaran oligarki, di mana para politikus bermental rampok saling melindungi. Mereka menguasai proyek, tender, hingga hukum, sementara rakyat hanya dijadikan tameng.

“Yang berbeda partai bisa saja bersekongkol jika ada kepentingan bersama. Pada titik ini, negara dijarah bukan dari luar, melainkan dari dalam,” tegasnya.

Saatnya Rakyat Bangkit

Meski demikian, Syam mengajak masyarakat untuk tidak tinggal diam. Ia menekankan pentingnya kesadaran kolektif agar politik kembali menjadi ruang pengabdian, bukan ruang perampokan.

“Diam berarti menyetujui. Melawan dengan kesadaran berarti menjaga masa depan bangsa,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa bangsa ini membutuhkan pemimpin berjiwa negarawan, bukan sekadar lihai berkamuflase. Restorasi politik harus berawal dari restorasi jiwa, sebab kepemimpinan sejati lahir dari jiwa yang bersih, bukan dari kerakusan.

Kini, lanjutnya, sudah saatnya rakyat berani bersuara untuk menghentikan praktik perampokan yang dibungkus dalam seragam demokrasi.

“Politik tanpa moral hanyalah perampokan yang dilegalkan; dan bangsa yang diam, sedang menulis takdir kehancurannya sendiri,” pungkas Syam Basrijal.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
15 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

holopis