JAKARTA – Depresi adalah gangguan mental yang lebih dari sekadar rasa sedih biasa. Kondisi ini ditandai suasana hati murung, perasaan hampa, atau hilangnya minat pada aktivitas sehari-hari dalam waktu lama. Jika tidak ditangani, depresi bisa memengaruhi hubungan sosial, menurunkan produktivitas, bahkan berujung pada tindakan bunuh diri.
Gejalanya beragam, mulai dari gangguan tidur, perubahan nafsu makan, hingga rasa lelah yang terus-menerus. Banyak penderita juga mengalami konsentrasi buruk, perasaan bersalah berlebihan, putus asa terhadap masa depan, sampai munculnya pikiran untuk mengakhiri hidup. Episode depresi biasanya berlangsung hampir setiap hari selama minimal dua minggu.
Depresi bisa dialami siapa saja. Orang yang pernah mengalami kekerasan, kehilangan besar, atau peristiwa penuh tekanan lebih rentan mengalaminya. Perempuan juga tercatat lebih sering terdampak dibanding laki-laki.
Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan 5,7 persen orang dewasa di dunia hidup dengan depresi, termasuk 6,9 persen perempuan dan 4,6 persen laki-laki. WHO juga mencatat sekitar 727.000 orang meninggal akibat bunuh diri pada 2021, menjadikan bunuh diri sebagai penyebab kematian ketiga terbanyak di kalangan usia 15–29 tahun.
Pola Depresi
Depresi dapat muncul dalam beberapa pola, antara lain:
1. Episode tunggal – depresi yang dialami untuk pertama kalinya.
2. Depresi berulang – kondisi dengan dua episode atau lebih.
3. Gangguan bipolar – depresi yang bergantian dengan periode mania, ditandai rasa euforia, energi berlebih, hingga perilaku impulsif.
Tantangan Penanganan
Meski ada terapi dan obat yang efektif, tidak semua penderita mendapat akses perawatan. Hambatan terbesar adalah stigma sosial, kurangnya tenaga profesional, dan minimnya investasi di bidang kesehatan mental.
Depresi bisa menimpa siapa pun, dan bukan tanda kelemahan. Mengenali gejalanya sejak dini serta mencari bantuan profesional adalah langkah penting untuk mencegah dampak yang lebih buruk. Sobat Holopis, jangan ragu berbicara dan meminta dukungan kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.


