JAKARTA – Danau Toba, permata pariwisata Sumatera Utara, kembali bersinar di kancah global. Berkat kolaborasi solid, Geopark Kaldera Toba sukses meraih kembali status kartu hijau (green card) dari UNESCO Global Geopark.
Keputusan prestisius ini ditetapkan dalam Sidang Council UNESCO Global Geoparks (UGGp) yang berlangsung pada 5-6 September 2025 di Chili. Saat ini, laporan dari Sidang Council UGGp akan diajukan ke Dewan Eksekutif UNESCO untuk mendapatkan pengesahan resmi pada pertengahan tahun 2026.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan apresiasi mendalam atas kolaborasi dan kerja keras yang telah dilakukan. “Saya mengapresiasi kolaborasi dan kerja keras semua pihak, mulai dari gubernur, kepala daerah, badan pengelola, hingga stakeholder pariwisata yang telah menjalankan semua masukan dari tim asesor,” ujar Widiyanti dalam konferensi persnya di Jakarta, Rabu.
Pencapaian ini tidak datang sendiri. Danau Toba bersanding dengan dua geopark kebanggaan Indonesia lainnya, yaitu Geopark Rinjani Lombok dan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, yang juga berhasil meraih status green card.
Status green card merupakan validasi UNESCO bahwa Geopark Kaldera Toba telah memenuhi standar global dan akan mempertahankan statusnya selama empat tahun ke depan.
Untuk diketahui, setiap geopark diwajibkan menjalani revalidasi menyeluruh setiap empat tahun sekali. Jika mendapat yellow card, perpanjangan hanya diberikan selama dua tahun dengan sejumlah rekomendasi yang harus dipenuhi.
Menteri Pariwisata Widiyanti menegaskan bahwa Geopark Kaldera Toba bukan hanya sekedar destinasi, melainkan manifestasi nyata dari visi pariwisata berkelanjutan Indonesia. “Status geopark adalah peluang untuk membuka ruang pembelajaran dan pengembangan pariwisata yang berkelanjutan,” tutupnya.

