11 September, Hari Radio Nasional: Saat Suara Jadi Senjata Perjuangan
JAKARTA - Setiap 11 September, bangsa Indonesia memperingati Hari Radio Nasional, momen bersejarah yang menandai lahirnya Radio Republik Indonesia (RRI) pada 1945. Peringatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan refleksi atas peran radio sebagai mediator, fasilitator, dan motivator dalam perjalanan bangsa.
Sejak awal abad ke-20, radio telah menjadi medium penting yang melahirkan banyak tokoh penyiaran. Dikutip dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), perintis dunia radio pada era 1920-an hingga 1940-an di antaranya adalah Sarsito Mangunkusumo, Sutarjo Kartohadikusumo, Abdulrahman Saleh, Maladi, Bung Tomo, Jusuf Ronodipuro, Haji Agus Salim, dan Gusti Nurul.
Sarsito Mangunkusumo, misalnya, dikenal sebagai tangan kanan Mangkunagoro VII dalam urusan penyiaran. Ia menggerakkan berbagai radio Ketimuran di kota-kota besar. Sementara itu, Sutarjo Kartohadikusumo memperjuangkan hak siar Radio Ketimuran dan berperan menjembatani konflik dengan NIROM agar stasiun pribumi tetap hidup.
Tokoh politik sekaligus mubaligh, Haji Agus Salim, menggunakan radio untuk berdakwah dan menyebarkan pesan keagamaan. Dari kalangan bangsawan, Gusti Nurul mewakili ayahandanya dalam sejumlah siaran penting sejak remaja.
Tak kalah besar jasanya, Abdulrahman Saleh yang pernah memimpin VORO kemudian menjadi Ketua RRI saat pertama kali berdiri pada 11 September 1945. Setelahnya, Maladi, praktisi radio olahraga, turut memperkuat eksistensi RRI.
Di sisi lain, nama Jusuf Ronodipuro tercatat dalam sejarah setelah ia membacakan ulang naskah Proklamasi Kemerdekaan pada malam 17 Agustus 1945 melalui radio, menyebarkan kabar kemerdekaan ke seluruh penjuru negeri.
Sementara itu, Bung Tomo memanfaatkan Radio Pemberontakan untuk membakar semangat arek-arek Surabaya dalam melawan Sekutu. Strateginya membuat siaran seolah direlay RRI menjadikan radio sebagai senjata psikologis sekaligus alat perjuangan.
Hari Radio Nasional menjadi pengingat, bahwa suara yang dulu lahir dari balik mikrofon bukan sekadar hiburan, melainkan alat perjuangan bangsa. Kini, di tengah era digital, radio tetap relevan sebagai media yang mendekatkan, menyuarakan, dan menggerakkan masyarakat Indonesia.