JAKARTA – Jurnalis senior Uni Zulfiani Lubis berpesan kepada Presiden RI Prabowo Subianto untuk berhati-hati saat menghadapi gejolak permasalahan negara, agar tidak mudah terpancing dalam mengambil langkah yang dapat menimbulkan dampak negatif pada bangsa Indonesia.
“Aku rasa perlu sampaikan ya supaya Pak Prabowo jaga-jaga terus kemudian jangan tergoda untuk mengambil tindakan-tindakan yang drastis. Termasuk misalnya kalau ada yang ngebisikin, ‘Wah, ini kayaknya udah waktunya nih darurat sipil’,” kata Lubis, seperti dikutip Holopis.com, Jumat (5/9).
Ia menjelaskan bahwa situasi pada saat itu sulit dikendalikan oleh pihak kepolisian, sehingga pada malam 30 Agustus 2025, sekitar 75.000 anggota TNI turut dikerahkan untuk mengamankan Jakarta, khususnya karena malam itu berkaitan dengan adanya penjarahan di beberapa rumah pejabat, seperti rumah Ahmad Sahroni, Uya Kuya, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Nafa Urbach.
“Karena polisi dianggap sudah tidak bisa lagi mengendalikan. Dan memang kan tanggal 30 malam sekarang ini teman-teman di Jakarta ini ada 75.000 TNI yang diperbantukan untuk mengamankan Ibu Kota karena tanggal 30 malam, tanggal 30 itu kan berarti Sabtu malam ketika malam itu rumahnya Sahroni,” ungkapnya.
“Kemudian rumahnya Uya Kuya kemudian jam 01.00 dan jam 03.00 Pagi rumahnya Menteri Keuangan Ibu Sri Mulyani. Jam 03.40 itu ada rumahnya Nafa Urbach ya itu di rumah yang di sewa oleh suaminya katanya. Tapi itu dianggap sebagai oleh orang yang menyerbu menjarah itu rumahnya Nafa Urbach,” tambahnya.
Pada hari itu, kata Lubis, Kapolri telah mengirim surat resmi kepada Panglima TNI untuk meminta bantuan personel TNI dalam menjaga ketertiban negara, namun pelaksanaan dari bantuan tersebut baru dilakukan pada hari berikutnya.
“Tanggal 30 malam itu Kapolri sudah mengirim surat resmi kepada Panglima TNI untuk meminta bantuan tenaga ini TNI untuk mengamankan dan kemudian dieksekusi besok harinya,” imbuhnya.

