JAKARTA – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi membuka ruang dialog bersama massa yang dihadiri oleh para ketua fraksi, usai adanya penembakan gas air mata yang dilakukan pihak aparat di sekitar Universitas Islam Bandung (Unisba) serta Universitas Pasundan (Unpas) Bandung, Jawa Barat.
Menurutnya, jangan sampai ruang dialog ini dihadiri oleh oknum massa yang tidak bertanggung jawab, yang dengan sengaja membuat kericuhan saat sedang berdiskusi.
“Saya membuka ruang dialog dan pada jam 13.00 ini juga saya bertemu dengan para rektor di Gedung Sate. Nanti pimpinan DPR, para ketua fraksinya hadir dan saya minta seluruh mahasiswanya serentak untuk hadir menyampaikan pendapat dan murni kalangan mahasiswa, sehingga pada waktu dialog tidak ada lagi orang yang lempar bom molotov, tidak ada lagi orang yang lempar petasan atau kembang api yang justru dengan prinsip semangat dialog itu,” kata Dedi dalam konferensi pers di Bandung, seperti dikutip Holopis.com, Selasa (2/9).
Ia berharap supaya permasalahan tersebut dapat terselesaikan dengan cepat, dan aspirasi yang disampaikan massa dapat terpenuhi dengan baik. “Itu yang penting saya tetap beritikad yang baik agar ini segera selesai masalahnya, seluruh tuntutan bisa terakomodir dengan baik,” ujarnya.
Kemudian, ia menjelaskan kronologi dari pihak aparat dan juga mahasiswa terkait aksi unjuk rasa yang terjadi pada Senin 1 September 2025 di sekitar Tamansari, Bandung, Jawa Barat yang berdekatan dengan area kampus Universitas Islam Bandung (Unisba) dan Universitas Pasundan (Unpas).
Berdasarkan keterangan, pria berusia 54 tahun itu mengungkapkan bahwa TNI Polri diserang menggunakan bom molotov oleh oknum massa yang membuat pihak mereka melakukan serangan balik untuk membubarkan massa. Akan tetapi, Dedi mengatakan bahwa dari pihak aparat tidak sampai melakukan serangan terhadap kampus. Di sisi lain, ia tetap mendengarkan penjelasan dari kedua belah pihak.
“Kan kalau dari penjelasan Pak Kapolda tadi kepada saya bahwa selama perjalanan malam itu ada namanya patroli gabungan TNI Polri. Pada saat gabungan TNI Polri itu ada orang yang melempari dengan bom molotov. Sehingga karena dilempari oleh bom molotov tentunya akan ada perlawanan yang dengan membubarkan kumpulan mereka agar jalan segera dibuka dan digunakan untuk umum. Intinya itu aja sih,” tegasnya.
“Dan kalau penjelasan dari Pak Kapolda tidak ada penembakan kampus, tetapi kalau penjelasan dari mahasiswa kan berbeda lagi. Kan saya menyampaikan penjelasan kedua-duanya,” tambahnya.
Usai mendapat penjelasan dari kedua belah pihak, menurut Dedi ini adalah ulah penyusup yang dengan sengaja membuat kekacauan dalam aksi unjuk rasa tersebut.
“Saya sudah mendapat penjelasan secara komprehensif dari teman-teman Presiden Mahasiswa dan kemudian dari Pak Rektor yang intinya menurut saya dalam kegiatan berdemonstrasi unjuk rasa saat ini sangat memiliki potensi masuknya berbagai kalangan kelompok yang tidak ada kaitannya dengan kampus yang tidak ada kaitannya dengan tuntutan, sehingga sering terjadi ceos ketika pelaksanaan kegiatan,” pungkasnya.


