JAKARTA – Negara-negara Eropa termasuk Belanda, Swedia, dan Slovenia telah meminta Uni Eropa (UE) untuk meningkatkan tekanan terhadap Israel dan mengambil tindakan lebih tegas terkait situasi Gaza.
Mengutip krisis kemanusiaan yang tidak bisa ditoleransi di Gaza dan perluasan permukiman di Tepi Barat, Belanda dan Swedia mendesak negara-negara anggota UE lainnya untuk meningkatkan tekanan terhadap Israel.
“Perlu dilakukan lebih banyak upaya untuk meningkatkan tekanan pada pemerintah Israel agar mengubah arah kebijakannya dan memenuhi kewajibannya sesuai hukum internasional,” kata Menteri Luar Negeri (Menlu) Belanda Ruben Brekelmans dan Menlu Swedia Maria Malmer Stenergard, dikutip Holopis.com, Jum’at (29/8).
Para menteri mengusulkan sanksi terhadap para pemukim yang melakukan kekerasan di Tepi Barat dan sejumlah menteri Israel ekstremis yang menentang solusi dua negara.
“Situasi kemanusiaan di Gaza masih sangat memprihatinkan dan tidak bisa ditoleransi. Penderitaan warga sipil tak terbayangkan,” demikian isi surat tersebut.
Mereka kemudian menambahkan dan menuntut agar penyaluran bantuan harus diizinkan di seluruh Gaza.
Eropa Dinilai Berisiko Kehilangan Pengaruh Global
Pada Kamis (28/8), Perdana Menteri (PM) Slovenia Robert Golob mengatakan Eropa berisiko kehilangan pengaruh global jika gagal menyesuaikan pendekatannya.
Menlu Slovenia Tanja Fajon menggambarkan konflik di Gaza sebagai genosida, menekankan bahwa masalah yang belum terselesaikan hanya akan kembali “alam bentuk yang lebih berdarah.
Sebagai informasi, pada Juni 2024, Slovenia mengakui Negara Palestina. Pada Juli tahun ini, Slovenia melarang impor produk dari permukiman Israel, serta membatasi ekspor, impor, dan transit senjata ke dan dari Israel.
Sementara itu, Slovenia menyatakan Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich sebagai personae non gratae (orang yang tidak diinginkan), dengan alasan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) Palestina.


