Dompet Dhuafa & PTTEP Gelar Cek Kanker Payudara Bagi Ratusan Ibu-Ibu

1 Shares

JAKARTA – Gerai Sehat Rorotan (GSR) memperingati satu dekade kiprahnya dengan sebuah perayaan istimewa yang penuh makna. Mengusung tema ‘Together We Empower and Inspire’, acara ini digelar di Rusun Rorotan, Jakarta Utara, pada Rabu 27 Agustus 2025.

Sebanyak 150 ibu-ibu hadir untuk mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis, termasuk layanan mamografi sebagai upaya deteksi dini kanker payudara.

- Advertisement -

Sejak berdiri pada 2015 melalui kolaborasi Dompet Dhuafa dan PTTEP Indonesia, Gerai Sehat Rorotan telah menjadi sahabat bagi masyarakat sekitar dalam mengakses layanan kesehatan. Selama satu dekade, GSR hadir untuk masyarakat prasejahtera dengan menghadirkan layanan yang terjangkau bahkan gratis, serta program-program edukasi kesehatan yang konsisten.

Peringatan 10 tahun kali ini difokuskan pada kampanye kesadaran kanker payudara. Selain pemeriksaan kesehatan umum, para peserta mendapatkan layanan mamografi gratis untuk mendeteksi secara dini risiko kanker payudara. Langkah ini penting mengingat kanker payudara masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan Indonesia.

- Advertisement -

“Kami ingin mengingatkan bahwa deteksi dini adalah kunci. Dengan mamografi, ibu-ibu bisa lebih cepat mengetahui kondisi kesehatannya sehingga peluang sembuh lebih besar jika ada temuan,” ujar Munjidah, salah satu tenaga medis GSR.

Acara ini turut dihadiri perwakilan pemerintah setempat, komunitas kesehatan, dan relawan. Selain layanan kesehatan, para peserta juga mendapat sesi edukasi tentang gaya hidup sehat, serta pentingnya dukungan keluarga dan komunitas dalam mencegah serta menghadapi kanker payudara.

Sementara itu dr M. Yadi Permana, sebagai pembicara dalam sosialisasi ini yang juga Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Onkologi, menjelaskan kanker payudara menduduki peringkat pertama dari seluruh kasus kanker di Dunia. Setiap tahunnya, ditemukan 2.296.840 kasus kanker payudara di seluruh Dunia.

“Sebanyak 911.014 atau 43 persennya ditemukan di kawasan negara-negara Asia,” ujarnya.

Yadi menyoroti keengganan masyarakat memeriksakan keluhan soal gejala kanker. Dia bahkan menyebut banyak masyarakat pergi ke ‘orang pintar’ dulu seperti pengobatan alternatif baru ke dokter.

“Jadi banyak yang ke orang pintar dulu. Baru kalau sudah parah nanti ke kami (dokter). Jangan seperti itu ya Bu,” ujarnya.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
1 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru