Bintang Pemberian Prabowo Bukan Sekadar Makna Kehormatan, Tapi Tanggung Jawab

4 Shares

JAKARTA – Pendiri Restorasi Jiwa Indonesia, Syam Basrijal menilai bahwa anugerah tanda kehormatan Bintang Utama dan Bintang Mahaputera kepada sejumlah pejabat dan konglomerat hingga public figure tak boleh sekadar dimaknai sebagai bentuk tanda kehormatan semata.

Ia mengatakan bahwa sebanarnya ada pesan moral yang sangat tinggi di balik anugerah tanda kehormatan yang diberikan oleh negara melalui tangan Presiden Prabowo Subianto kepada mereka.

- Advertisement -

“Tanda jasa dan kehormatan yang diberikan negara sejatinya adalah bentuk penghormatan atas jasa, dedikasi, dan kontribusi tokoh-tokoh yang dianggap berjasa. Namun, dari perspektif kesadaran holistik dan restoratif, penghargaan ini tidak boleh berhenti pada level simbolik, melainkan harus menjadi refleksi mendalam tentang makna kehormatan itu sendiri,” kata Syam kepada Holopis.com, Selasa (26/8/2025).

Oleh sebab itu, apa yang diberikan oleh negara tersebut harus dijalani dengan sustainable. Jangan justru peraih bintang kehormatan tersebut malah menyimpang dan bisa merusak bintang yang sudah disematkan negara tersebut di kemudian hari.

- Advertisement -

“Bintang bisa disematkan oleh negara, tetapi cahaya jiwa hanya dapat lahir dari integritas, kerendahan hati, dan keberpihakan pada rakyat,” ujarnya.

Kepada para peraih gelar kehormatan tersebut, Syam mengajak kepada mereka untuk merenungi lagi diri sendiri apakah mereka benar-benar sudah merasa bermanfaat kepada masyarakat, bagi mereka yang memiliki jabatan di pemerintahan apakah sudah membuat kebijakan yang murni pro rakyat atau tidak.

Refleksi sejenak ini menurut Syam Basrijal penting dilakukan karena bintang kehormatan yang diberikan negara melalui Presiden Prabowo Subianto bukan sekadar selendang berbintang yang dikenakan semata, melainkan ada nilai spiritual dan moralitas tinggi yang sebenarnya sedang disematkan kepada mereka.

“Pertanyaan mendasar yang harus dijawab para penerima penghargaan adalah, Apakah kebijakan, keputusan, dan sikap hidup saya benar-benar memuliakan rakyat, ataukah sekadar menjaga citra?,” tuturnya.

Diterangkan Syam, bahwa Restorasi Jiwa Indonesia memandang tanda kehormatan sebagai “cermin kesadaran politik.” Ia bukan sekadar penghargaan formal, tetapi juga ujian moral. Dalam setiap bintang yang disematkan, terkandung beban tanggung jawab: menjaga konsistensi antara simbol yang terlihat dan substansi yang dirasakan rakyat.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
4 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

holopis