JAKARTA – Masyarakat Indonesia saat ini sedang dibuat sedih dengan kasus seorang balita bernama Raya di Sukabumi yang meninggal dunia, setelah ribuan cacing ditemukan di dalam tubuhnya. Setelah dirawat selama sembilan bulan, nyawa Raya tidak bisa diselamatkan. Hal ini pun mengingatkan bahwa pengetahuan terkait cacingan, khususnya pada anak-anak masih minim diketahui masyarakat.
Cacingan merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup sering dialami anak-anak, terutama mereka yang berada di usia prasekolah hingga sekolah dasar. Dari berbagai jenis cacing usus yang bisa menginfeksi manusia, threadworm atau sering juga disebut pinworm, adalah yang paling umum ditemukan.
Menurut penjelasan dari rch.org.au, threadworm tergolong cacing gelang kecil yang kerap menimbulkan rasa tidak nyaman, terutama di area sekitar anus. Meskipun jarang menyebabkan penyakit serius, infeksi threadworm tetap perlu diatasi agar tidak mengganggu kesehatan dan kualitas hidup anak.
Bagaimana gejala cacingan, khususnya yang disebabkan oleh threadworm?
Gejala Cacingan Akibat Threadworm
Anak yang terinfeksi threadworm biasanya mengalami beberapa tanda khas. Gejala yang paling sering muncul adalah rasa gatal di bagian anus, terutama pada malam hari ketika cacing betina keluar untuk bertelur. Kondisi ini dapat membuat anak sulit tidur, rewel, atau menjadi lebih mudah tersinggung.
Selain itu, tanda-tanda lain yang bisa muncul meliputi.
- Anus terasa gatal dan menjadi kemerahan akibat sering digaruk.
- Sulit tidur nyenyak karena rasa tidak nyaman.
- Nafsu makan berkurang.
- Pada anak perempuan, terkadang muncul rasa gatal dan kemerahan di area vagina, bahkan bisa memperparah kondisi vulvovaginitis.
Jika diperhatikan dengan teliti, orang tua bahkan bisa melihat langsung keberadaan threadworm pada malam hari dengan menggunakan senter. Cacing ini tampak seperti benang putih kecil yang bergerak di sekitar anus atau area vagina pada anak perempuan.
Cara Penularan Threadworm
Threadworm dinamakan demikian karena bentuknya menyerupai benang putih tipis dengan panjang sekitar 1 cm. Cacing ini hidup di usus bagian bawah, tetapi pada malam hari cacing betina keluar menuju area sekitar anus untuk bertelur. Aktivitas ini menyebabkan rasa gatal pada anak, dan saat digaruk, telur cacing dapat menempel di kuku jari.
Dari sini, telur cacing bisa berpindah ke mulut anak melalui tangan atau tersebar ke benda lain, termasuk makanan, debu, dan permukaan yang disentuh. Telur threadworm bahkan dapat bertahan hingga dua minggu di luar tubuh manusia. Jika tertelan, telur akan menetas di usus kecil dan berkembang menjadi cacing dewasa di usus besar.
Penting untuk dicatat bahwa threadworm tidak menular dari hewan ke manusia, melainkan dari manusia ke manusia. Itulah sebabnya jika satu anggota keluarga terinfeksi, kemungkinan besar anggota keluarga lain juga bisa tertular.


