Di sisi lain, media juga diharapkan menjalankan perannya secara bertanggung jawab—memilah antara kritik yang membangun dan fitnah yang destruktif.
“Kritik itu sehat, fitnah hanya menyisakan abu dan arang,” tegasnya, mengutip pepatah lama yang menggambarkan betapa debat berkepanjangan justru dapat membakar kedua belah pihak—baik yang merasa menang maupun yang kalah.
Syam pun mengajak masyarakat untuk kembali pada esensi kepemimpinan, bukan seberapa panjang gelar yang dimiliki, melainkan seberapa dalam kontribusi yang diberikan.
“Bangsa ini terlalu besar untuk terus terjebak pada polemik yang menguras energi,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya menilai pemimpin dari keberanian dalam mengambil keputusan, dari integritas yang teruji, dan dari warisan kebijakan yang menyejahterakan rakyat.
Di tengah kegaduhan ini, kata Syam, tugas bersama seluruh elemen bangsa adalah memastikan Indonesia tidak berakhir menjadi abu atau arang, melainkan tetap menyala sebagai api harapan yang menyatukan.
“Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat panjang gelar, tetapi dalamnya kontribusi,” pungkasnya.

