JAKARTA – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, menegaskan pentingnya membangun sistem peringatan dini bencana yang berbasis prinsip early warning for all dan early action by all.
Ia menekankan, peringatan dini bukan hanya menjadi tanggung jawab satu lembaga, tetapi harus melibatkan kerja kolektif seluruh pihak sesuai kewenangan masing-masing.
“Peringatan dini tidak bisa hanya dilakukan BMKG. Seluruh instansi terkait wajib merespons agar informasi benar-benar sampai ke masyarakat yang membutuhkan,” ujar Dwikorita dalam keterangannya yang dikutip Holopis.com, Selasa (19/8/2025).
Kolaborasi lintas lembaga, kata dia, menjadi kunci efektivitas peringatan dini. BMKG misalnya, memerlukan data dari Badan Geologi untuk memantau potensi erupsi gunung api, termasuk gunung api bawah laut yang berpotensi menimbulkan tsunami.
Selain itu, data tide gauge dari Badan Informasi Geospasial (BIG) dimanfaatkan untuk memverifikasi prediksi tsunami secara lebih akurat.
Seiring perkembangan teknologi, BMKG kini mengintegrasikan artificial intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) dalam pengolahan data gempa bumi secara real-time.
Dengan inovasi tersebut, peringatan dini tsunami bisa disampaikan dalam waktu tiga menit, jauh lebih cepat dibanding rata-rata lima menit sebelum tahun 2018.
Namun, percepatan analisis di tingkat pusat belum tentu menjamin efektivitas di lapangan. Dwikorita menyoroti tantangan distribusi informasi ke masyarakat di daerah rawan bencana, terutama akibat keterbatasan jaringan komunikasi dan pasokan listrik di wilayah terpencil.
Untuk menjawab kendala itu, BMKG bersama BNPB, BPBD, dan Badan Geologi mengusung pendekatan ganda: memanfaatkan teknologi modern sekaligus menghidupkan kembali kearifan lokal.
Edukasi masyarakat agar segera menuju tempat aman atau dataran tinggi setelah merasakan guncangan kuat menjadi langkah konkret yang terbukti efektif.
Dwikorita menegaskan, kesadaran masyarakat merupakan kunci tercapainya tujuan “zero victim”. Ia juga mengingatkan pentingnya keberlanjutan data serta perawatan peralatan pemantauan. Kerusakan atau kehilangan alat dapat mengurangi akurasi peringatan dini.
“Koordinasi, sinergi, dan data berkualitas adalah kunci utama. Sistem peringatan dini hanya akan efektif jika semua pihak berperan aktif dan konsisten menjaga keberlangsungannya,” tegasnya.

