Kisah Lagu “Maafkan Aku” yang Viral, Ternyata Bukan Ciptaan Enda Ungu
JAKARTA – Lagu “Maafkan Aku” belakangan kembali viral di berbagai platform musik digital dan media sosial. Banyak orang mengenalnya sebagai lagu milik Enda, gitaris band Ungu. Namun, faktanya lagu ini bukanlah ciptaan Enda, melainkan karya dari R. Tias, vokalis band asal Malang bernama The Orion.
Meski sering dinyanyikan ulang oleh Enda Ungu, lagu “Maafkan Aku” sejatinya tidak berasal darinya. Lagu ini pertama kali lahir sekitar tahun 2008, ketika R. Tias bersama dua rekannya, Bryan (gitar) dan Ipung (gitar), masih berkuliah di Malang.
Sayangnya, saat mulai beredar melalui pasar CD bajakan pada tahun 2009, lagu ini justru salah dikreditkan sebagai milik Enda Ungu. Sejak saat itu, banyak orang yang terlanjur mengira Enda adalah penciptanya.
Perjalanan Sang Pencipta
Band The Orion kemudian vakum, dan R. Tias beralih profesi menjadi pedagang nasi goreng di kawasan Taman Barito, Jakarta Selatan, sejak sekitar 2014. Meski begitu, ia tetap menyimpan semangat bermusiknya.
Lagu “Maafkan Aku” kembali mencuri perhatian publik setelah dinyanyikan ulang oleh sejumlah penyanyi, salah satunya Indah Yastami, yang videonya ditonton hingga puluhan juta kali di YouTube.
Kesuksesan tersebut akhirnya membawa nama The Orion kembali dikenal. Dengan dukungan manajemen Positif Art, band ini pun dibangkitkan lagi untuk mengulang kesuksesan yang sempat tertunda.
Penuh Makna dan Pesan Perpisahan
Secara lirik, “Maafkan Aku” bercerita tentang perasaan seseorang yang harus meninggalkan kekasihnya. Meski penuh penyesalan, ia berharap pasangannya tetap bisa melanjutkan hidup dengan senyuman.
Nuansa perpisahan yang sederhana namun emosional inilah yang membuat lagu ini begitu membekas di hati banyak pendengar, bahkan bertahan hingga sekarang.
Makna Lagu “Maafkan Aku”
Lagu “Maafkan Aku” menyuguhkan kisah tentang perpisahan yang tidak pernah diinginkan. Liriknya menggambarkan seseorang yang harus pergi meninggalkan kekasihnya, bukan karena hilangnya rasa cinta, melainkan karena keadaan yang memaksa. Ada rasa penyesalan yang mendalam karena perpisahan itu membuat hati terluka, namun tetap disampaikan dengan ketulusan lewat kata maaf.
Di balik kesedihannya, lagu ini juga menyampaikan pesan tentang keikhlasan. Sang tokoh utama tidak meminta kekasihnya menunggu, melainkan justru mendorongnya untuk melupakan dan melanjutkan hidup. Kalimat “lupakan saja diriku untuk selama-lamanya” menjadi simbol ketulusan, bahwa cinta sejati tidak selalu tentang memiliki, melainkan juga tentang merelakan demi kebaikan orang yang dicintai.
Selain itu, terdapat juga pesan penguatan bagi sang kekasih. Melalui bait “Tidurlah sayangku, mentari telah menunggu, sambutlah pagi nanti dengan hati tersenyum”, lagu ini mengingatkan bahwa meskipun perpisahan menyakitkan, hidup harus tetap berjalan. Ada harapan agar yang ditinggalkan bisa menyambut hari baru dengan senyuman dan kekuatan.
Makna mendalam dari lagu ini membuat banyak orang merasa terhubung secara emosional. Perasaan kehilangan, penyesalan, namun juga keikhlasan untuk melepas, adalah pengalaman universal yang dialami hampir semua orang dalam perjalanan hidup. Itulah sebabnya, meskipun sederhana, “Maafkan Aku” mampu bertahan sebagai lagu yang menyentuh hati pendengarnya lintas generasi.
Lirik Lagu “Maafkan Aku” – The Orion / Enda (Cover)
Tak bisa kulupa saat-saat indah bersamamu
Semua cerita mungkin kini hanya tinggal kenangan
Ku harus pergi meninggalkanmu di dalam sepiku
Bukan inginku tuk menyakiti perasaanmu
Maafkan aku
Maafkan aku yang tak bisa menunggu hatimu
Lupakan saja diriku untuk selama-lamanya
Kuharus pergi meninggalkanmu di dalam sepiku
Bukan inginku tuk menyakiti perasaanmu
Maafkan aku
Tidurlah sayangku
Mentari telah menunggu
Sambutlah pagi nanti
Dengan hati tersenyum
Bermimpilah cinta
Dengan segenap rasa
Kini tibalah saatnya kita harus berpisah
Tidurlah sayangku
Mentari telah menunggu
Sambutlah pagi nanti
Dengan hati tersenyum
Bermimpilah cinta
Dengan segenap rasa
Kini tibalah saatnya kita harus berpisah
Maafkanlah aku yang tak bisa menunggu
Lupakan saja diriku untuk selama-lamanya