JAKARTA – Ketua Yayasan Dompet Dhuafa Republika, Ahmad Juwaini menyerukan pentingnya kolaborasi dalam upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia, setelah 80 tahun merdeka. Hal itu disampaikan dalam acara Sarasehan Tokoh Bangsa bertajuk ‘Merajut Kebersamaan Mewujudkan Merdeka dari Kemiskinan’ di Dompet Dhuafa Philanthropy Building, Jakarta Selatan, Rabu (13/8).
Juwaini mengatakan, bahwa penanganan kemiskinan menjadi hal yang sangat mendesak, terutama ketika Indonesia menghadapi masa sulit seperti krisis ekonomi 1998 dan pandemi COVID-19.
Untuk itu menurutnya, penanganan kemiskinan bukan menjadi kewajiban pemerintah semata, tetapi menjadi kewajiban seluruh lapisan masyarakat.
“Angka kemiskinan tercatat naik drastis pada krisis ekonomi 1998 dan pandemi COVID-19. Jadi kita perlu mengatasi bersama,” ujar Ahmad Juwaini, dikutip Holopis.com di lokasi, Rabu (13/8).
Senada, Pendiri Yayasan Dompet Dhuafa Republika Parni Hadi menyampaikan, bahwa Dompet Dhuafa terus hadir untuk memerdekakan masyarakat dari kemiskinan.
Ia pun mengingatkan, bahwa Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan RI ini menjadi momentum penting bagi bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan. Bukan dari bangsa lain, akan tetapi dari kemiskinan.
“Kita merayakan kemerdekaan dengan tekad merdeka dari belenggu penjajahan kemiskinan,” tegasnya .
Sementara itu, Sekjen Dewan Masjid Indonesia Rahmat Hidayat menyampaikan, bahwa masjid merupakan salah satu sarana penting dalam pengentasan kemiskinan. Baginya, peran masjid sebagai pusat peradaban umat, mampu meningkatkan kompetensi hard dan soft skill masyarakat.
Di Indonesia, kata dia, terdapat lebih dari 800 ribu masjid yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Jaringan masjid yang luas merupakan aset berharga untuk menjangkau masyarakat di berbagai daerah, baik di perkotaan maupun pedesaan.
“Dengan merajut kebersamaan, masjid dapat menjadi pusat peradaban, sarana meningkatkan kompetensi umat baik hard skill maupun soft skill, serta mereka menjadi berdaya dan terbebas dari kemiskinan,” tandas Rahmat.

