Korupsi Dinilai Jadi Penjajahan Modern yang Retakkan Fondasi Bangsa

0 Shares

JAKARTA – Founder Restorasi Jiwa Indonesia, Syam Basrijal, menilai bahwa di usia 80 tahun kemerdekaan, Indonesia justru menghadapi ancaman serius dari dalam negeri sendiri, yakni korupsi yang ia sebut sebagai bentuk penjajahan modern dan meretakkan fondasi bangsa Indonesia.

“Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, ia adalah pembusukan dari dalam tubuh negara—menggerogoti sendi-sendi keadilan, memutus kepercayaan antara rakyat dan pemimpin, serta mengikis rasa persatuan yang telah dibangun dengan pengorbanan nyawa,” ujar Syam dalam keterangan tertulisnya, Selasa (12/8/2025).

- Advertisement -Hosting Terbaik

Ia menegaskan, korupsi yang dibiarkan justru menjadi pendorong disintegrasi bangsa. Dana pembangunan yang seharusnya dinikmati secara merata, menurutnya, kerap tersedot ke kantong segelintir orang. Akibatnya, kesenjangan lebar tercipta antara daerah maju dan daerah tertinggal.

“Kota besar menikmati infrastruktur megah; di sisi lain, desa-desa masih berjuang dengan sekolah reyot dan jalan berlumpur. Kesenjangan ini menjadi lahan subur bagi sentimen kedaerahan, rasa iri, dan ketidakpercayaan antarwilayah—bibit laten disintegrasi yang siap meledak kapan saja,” katanya.

- Advertisement -

Syam juga mengingatkan bahwa korupsi memutus tali kepercayaan antara rakyat dan negara. Ia menyebut hukum yang “tajam ke bawah, tumpul ke atas” berpotensi membuat rakyat kehilangan rasa hormat kepada institusi, sehingga mudah terprovokasi untuk menarik diri dari komitmen kebangsaan.

Tak hanya itu, lanjutnya, korupsi juga mencuri identitas kolektif bangsa dengan menggerus nilai gotong royong, menggantinya dengan mentalitas “selamatkan diri sendiri.” Kondisi ini dinilai berbahaya karena dapat memicu konflik horizontal dari tingkat desa hingga antarprovinsi.

Di ranah politik, Syam menilai korupsi mendorong praktik transaksional yang mengabaikan kepentingan rakyat.

“Pemimpin yang lahir dari uang akan mencari cara untuk mengembalikan modal, bukan melayani rakyat. Dan ketika rakyat sadar bahwa suara mereka dibeli, partisipasi politik berubah menjadi perdagangan, bukan pengabdian—mengikis makna demokrasi itu sendiri,” tegasnya.

Syam juga menyoroti dampak korupsi terhadap ekonomi dan integrasi wilayah. Daerah kaya sumber daya alam, menurutnya, sering merasa “dikeruk tanpa dibangun”, yang memicu tuntutan otonomi hingga gerakan separatis.

Korupsi bahkan merambah media dan pendidikan. Syam mengatakan media bisa dibungkam atau dibeli, sehingga narasi publik menjadi terdistorsi dan memperkuat polarisasi. Sementara itu, pendidikan yang tercemar praktik korupsi gagal melahirkan generasi berintegritas.

Jika dibiarkan, lanjut Syam, semua ini akan melahirkan apatisme kolektif di masyarakat.

“Apatisme ini berbahaya karena membuat ruang publik kosong, memberi peluang bagi segelintir orang untuk menguasai panggung politik dan ekonomi tanpa pengawasan,” ujarnya.

Sebagai solusi, Syam mengusung gagasan “restorasi jiwa bangsa” yang menekankan pemulihan nilai kejujuran, gotong royong, dan pengabdian. Ia mendorong pendidikan integritas sejak dini, teladan nyata dari para pemimpin, media yang bebas dan bertanggung jawab, serta penegakan hukum yang adil tanpa pandang bulu.

“Di usia 80 tahun kemerdekaan, kita berada di persimpangan: apakah kita akan menjadi bangsa yang kuat secara ekonomi tetapi rapuh secara moral, atau bangsa yang mungkin belum sempurna tetapi kokoh dalam persatuan dan integritas?” pungkasnya.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

holopis