JAKARTA – Fenomena “performative male” sedang jadi bahan perbincangan hangat di media sosial, khususnya TikTok dan X. Gaya ini menampilkan citra pria yang calm, sensitif, artsy, dan jauh dari stereotipe macho.
Ciri-cirinya cukup khas. Mereka kerap memakai tote bag, membaca buku-buku feminis, mendengarkan lagu-lagu indie bernuansa galau, hingga berjalan sambil membawa minuman matcha yang tampilannya aesthetic.
Penampilan santai dengan perpaduan busana kasual dan aksesori trendi semakin menguatkan karakter ini.
Bagi sebagian orang, tren ini dianggap sebagai bentuk kemajuan maskulinitas. Cowok tidak lagi harus selalu tampil tangguh atau keras untuk membuktikan diri. Sebaliknya, mereka mulai menunjukkan sisi lembut dan perhatian terhadap isu-isu sosial, termasuk kesetaraan gender.
Namun, tidak sedikit pula yang menilai fenomena ini hanya sebatas performa di depan kamera. Kritik yang muncul menyebutkan bahwa gaya hidup ala “performative male” lebih banyak dilakukan demi konten, likes, dan validasi dari warganet.
Apalagi, banyak unggahan yang terlihat seperti mengikuti template populer di TikTok, lengkap dengan properti dan angle yang seragam.
Di sisi lain, tren ini juga membuka ruang diskusi tentang bagaimana media sosial membentuk identitas dan perilaku. Ketika platform digital memberi sorotan pada gaya tertentu, batas antara ekspresi diri yang tulus dan pencitraan demi engagement menjadi semakin kabur.
Fenomena “performative male” pada akhirnya mencerminkan dinamika generasi muda dalam mengekspresikan diri di era digital. Apakah ini akan bertahan sebagai subkultur atau memudar seperti tren viral lainnya, semua bergantung pada apakah gaya ini benar-benar berakar pada kepribadian atau hanya sebatas strategi visual yang lagi naik daun di linimasa.


