Review Film : Sore Istri dari Masa Depan, Karya yang Harus Ditonton dengan Rasa


Oleh : Darin Brenda Iskarina

JAKARTA - Film Sore: Istri dari Masa Depan saat ini menjadi film Indonesia yang viral dan sedang banyak dibicarakan oleh masyarakat Indonesia. Selain karena alur cerita yang unik dan menggugah hati, soundtrack film Sore yang berjudul Terbuang Dalam Waktu karya Barasuara juga saat ini menjadi lagu yang viral dan sering didengar berulang-ulang oleh para penikmat musik.

Flm Sore merupakan adaptasi ulang dari web series berjudul sama, yang awalnya menjadi iklan soft selling salah satu produk sweetener gula tebu. Karena sukses dan memiliki alur cerita yang sangat membekas, serial ini kemudian diangkat menjadi sebuah film.

Dipandu sutradara Yandy Laurens dan dibintangi Dion Wiyoko dan Sheila Dara, film Sore berhasil menjadi film Indonesia terpopuler saat ini, dan sudah mengumpulkan lebih dari dua juta penonton

Lalu, apa sih yang membuat banyak penonton tersihir di film ini, hingga tidak sedikit pula yang mau menonton berkali-kali? Ini dia Sobat Holopis, review film Sore: Istri dari Masa Depan.

Review Film Sore: Istri dari Masa Depan

Film yang dipandu dan ditulis oleh Yandy ini terasa cukup sukses dalam mengambil perhatian penonton di awal adegan tanpa harus mengulur-ulur cerita, dan nyaris langsung to the point ketika Sore (Sheila Dara) tiba-tiba muncul di sebelah Jonathan (Dion Wiyoko) dan memberitahu bahwa dia adalah istri dari masa depan Jonathan.

Meski tak bertele-tele di awal, penonton tetap sempat dikenalkan dengan Jonathan yang merupakan seorang fotografer berbakat. Suasana dingin di awal film ketika Jonathan mengambil foto di tengah-tengah salju putih juga seolah-olah menunjukkan dinginnya kehidupan Jonathan dengan segala traumanya yang belum dijelaskan.

Kemudian, Sore pun muncul dan membuat Jonathan terkejut. Adegan awal film ini pun disutradarai dengan sangat baik dan menarik. Selain melihat situasi unik yang menghibur, pentonton juga merasakan pemandangan indah dari negara Kroasia, dan akting para aktor dan aktris Kroasia yang terlihat natural dan profesional sehingga tidak membuat penonton mengernyitkan dahi

Namun ujian dalam menonton film ini muncul di tengah-tengah film atau act two. Di awal film saat penonton ditunjukkan nama ‘Jonathan’ sebagai judul babak pertama, di sini sudah ketahuan bahwa film ini akan memiliki lebih dari satu sudut pandang. Benar saja di babak kedua, kita melihat point of view Sore yang ternyata sudah menemui Jonathan selama ratusan kali, demi membuatnya hidup lebih sehat dan tidak meninggal cepat karena serangan jantung.

Di bagian ini, Sore ternyata sudah bangun di momen yang sama setiap kali dia gagal menyelamatkan Jonathan dan harus memulai sejak awal. Lama kelamaan, penonton dibuat lelah menonton adegan itu, namun justru ini terasa seperti pesan dari sutradara, agar penonton merasakan bagaimana lelahnya menjadi Sore.

Tentunya penonton tidak usah khawatir, karena semua rasa lelah dan bingung penonton terbayarkan di act three, di mana kesimpulan sudah menunggu dan kisah antara Sore dan Jonathan pun disajikan dengan konklusi memuaskan dan bisa membuat hati para penonton terharu biru.

Setelah Sore tertelan waktu dan Jonathan merasakan rasa rindu terhadap sesuatu yang tak ia mengerti, ternyata membuatnya mau berubah untuk hidup menjadi lebih sehat. Pesan bahwa seseorang berubah hanya dari dirinya sendiri berhasil disampaikan oleh penulis.

Lagu Terbuang dalam Waktu dari Barasuara pun tampaknya memang berjodoh dengan film ini, karena membuat ending Sore menjadi sebuah cinematic experience yang rasanya akan sulit dilupakan oleh penonton bahkan sesudah waktu yang lama.

Secara keseluruhan, Holopis.com memberikan film ini rating 9/10. Layaknya film yang mengambil unsur fantasi, tentunya akan ada banyak plot hole di alur cerita. Namun Yandy Laurens pada dasarnya fokus pada rasa yang diberikan film ini dan bukan lah logika. Sesuatu yang seharusnya sampai di hati masing-masing penonton bagi yang juga menontonnya dengan rasa.

&t=4s

Tampilan Utama