International Childfree Day: Saatnya Menghargai Pilihan Hidup Tanpa Anak

0 Shares

JAKARTA – Setiap tanggal 1 Agustus diperingati sebagai International Childfree Day, hari yang dirancang untuk merayakan, mendukung, dan mengakui individu atau pasangan yang secara sadar memilih untuk tidak memiliki anak.

Meski topiknya masih memicu pro dan kontra, hari ini menjadi momen penting untuk menegaskan bahwa tidak punya anak bukan berarti kurang, dan menjadi orang tua bukan satu-satunya jalan menuju kebahagiaan.

- Advertisement -

Sejarah Singkat International Childfree Day

Hari Childfree Internasional pertama kali diperingati pada tahun 1973 di Amerika Serikat dengan nama Non-Parents’ Day. Gagasannya berasal dari National Alliance for Optional Parenthood (NAOP), sebuah organisasi yang memperjuangkan hak untuk memilih hidup tanpa anak.

Namun pada tahun 2013, penulis sekaligus aktivis Laura Carroll menghidupkan kembali gerakan ini dengan nama baru, yakni International Childfree Day yang dikenal hingga saat ini.

- Advertisement -

Tujuan utama peringatan ini adalah memberi pengakuan terhadap keberanian orang-orang yang menolak tekanan sosial dan budaya untuk memiliki anak, sekaligus membuka ruang diskusi tentang pilihan hidup yang sering kali dianggap tak lazim.

Childfree Adalah Gaya Hidup

Berbeda dari istilah “childless” yang merujuk pada kondisi tak punya anak karena alasan tertentu (seperti infertilitas atau belum menikah), “childfree” adalah pilihan sadar. Bagi banyak orang, keputusan ini datang dari pertimbangan serius, mulai dari aspek keuangan, kesehatan mental, hingga dampak terhadap lingkungan.

Studi dari Pew Research Center tahun 2021 mencatat, bahwa 44 persen orang dewasa usia 18–49 di Amerika mengatakan mereka tidak berencana memiliki anak, angka yang menunjukkan tren meningkat dibanding dekade sebelumnya.

Mengapa Banyak Orang Memilih Childfree?

Terdapat beberapa alasan umum yang sering disebut para pelaku untuk menjalani gaya hidup childfree. Pertama yakni tentang beban finansial yang besar ketika membesarkan anak.

Menurut riset dari USDA, biaya membesarkan satu anak hingga usia 18 tahun bisa mencapai lebih dari 230.000 dolar AS, yang apabila diubah dalam kurs rupiah sekitar Rp3,6 miliar.

Prioritas pribadi juga menjadi alasan mereka memilih gaya hidup childfree. Banyak individu merasa hidup tanpa anak memberi ruang lebih untuk mengejar karier, hobi, relasi yang sehat, dan self-care.

Tak cuma itu, kekhawatiran akan keberlangsungan lingkungan juga menjadi alasan para pelaku, terutama bagi mereka yang berperan aktif sebagai aktivis lingkungan. Bagi mereka, menghindari punya anak demi mengurangi jejak karbon dan tekanan populasi global.

Alasan juga datang dari sisi psikologis. Pasalnya, ada yang memilih childfree karena pengalaman masa kecil yang sulit atau ketidakpercayaan terhadap sistem sosial saat ini. Bisa dikatakan trauma masa kecil menjadi alasan mereka memilih gaya hidup childfree.

Stigma Masih Nyata

Meski makin diterima, stigma terhadap orang childfree belum sepenuhnya hilang. Mereka kerap dianggap egois, tak lengkap, bahkan tak “dewasa”.

Di Indonesia sendiri, perbincangan tentang childfree pernah mencuat saat influencer Gita Savitri menyatakan pilihannya tidak ingin punya anak. Pernyataan itu menuai pujian sekaligus hujatan, menandakan masih sempitnya ruang dialog yang sehat di tengah masyarakat.

“Orang childfree bukan berarti membenci anak-anak. Mereka hanya memilih hidup yang berbeda, dan itu harus dihormati,” tegas Laura Carroll dalam salah satu wawancaranya.

Komunitas dan Dukungan Global

Setiap tahunnya, International Childfree Day juga merayakan individu inspiratif melalui penghargaan seperti Childfree Person of the Year. Selain itu, komunitas global seperti No Kidding! atau Childfree by Choice menyediakan ruang aman bagi mereka yang ingin terhubung dengan sesama, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan.

Media internasional seperti National Today dan Advantia Health juga rutin merilis artikel edukatif yang membahas isu-isu terkait pilihan childfree, termasuk aspek kesehatan mental, relasi sosial, dan dukungan kebijakan publik.

Hari Childfree Internasional bukan sekadar perayaan simbolik. Ini adalah panggilan untuk mengakui keberagaman bentuk keluarga dan menghargai kebebasan individu dalam menentukan jalan hidupnya.

Mereka yang memilih childfree bukan kurang kontribusi, justru banyak dari mereka berperan aktif di bidang seni, akademik, sosial, hingga advokasi lingkungan. Sebuah kontribusi yang kadang justru lebih leluasa dijalankan tanpa beban pengasuhan.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru