Thailand dan Kamboja Sepakat Gencatan Senjata Tanpa Syarat
JAKARTA - Setelah konflik perbatasan paling mematikan dalam lebih dari satu dekade, Thailand dan Kamboja akhirnya sepakat melakukan gencatan senjata tanpa syarat, mulai Senin (28/7) pukul 24.00 waktu setempat.
Kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan tingkat tinggi yang digelar di Malaysia pada hari ini, dimediasi langsung oleh Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dalam kapasitasnya sebagai Ketua ASEAN.
Komandan militer dari kedua negara dijadwalkan menggelar pertemuan lanjutan pada Selasa (29/7) pukul 07.00 waktu setempat, untuk menyusun langkah implementasi awal dari gencatan senjata tanpa syarat tersebut.
“Kedua pihak, Kamboja dan Thailand, mencapai kesepahaman bersama. Ini langkah awal penting menuju de-eskalasi dan pemulihan perdamaian serta keamanan,” ujar Anwar dalam keterangan usai dialog, dikutip Holopis.com, Senin (28/7).
Pertemuan bersejarah ini mempertemukan Pelaksana Tugas Perdana Menteri Thailand Phumtham Wechayachai dan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet. Keduanya didampingi utusan khusus dari Amerika Serikat dan China.
Dalam pernyataan bersama, ketiga negara menyatakan bahwa menteri luar negeri dan menteri pertahanan dari Thailand dan Kamboja akan menyusun mekanisme rinci terkait pelaksanaan, verifikasi, dan pelaporan gencatan senjata.
Mekanisme tersebut disebut menjadi dasar perdamaian jangka panjang dan akuntabilitas lintas negara.
Pertemuan ini merupakan dialog formal pertama sejak konflik terbaru meletus pada 24 Juli 2025 lalu. Serangkaian bentrokan militer di sepanjang perbatasan 800 kilometer antara kedua negara menewaskan sedikitnya 36 orang dan memaksa lebih dari 150.000 warga sipil mengungsi.
Eskalasi memuncak pada akhir pekan dengan laporan tembakan artileri berat dan serangan udara, di tengah tuduhan saling menyerang kawasan sipil.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut memainkan peran penting untuk memberikan tekanan diplomatik terhadap kedua negara. Ia mebgancam tidak akan menandatangani kesepakatan dagang dengan kedua negara, selama konflik masih berlangsung.