JAKARTA – Sekitar 80.000 warga desa di Kamboja mengungsi untuk mencari tempat perlindungan yang aman setelah bentrokan bersenjata antara tentara Kamboja dan Thailand di wilayah perbatasan yang disengketakan memasuki hari keempat.
“Jumlah pengungsi di tiga provinsi, yakni Preah Vihear, Oddar Meanchey, dan Pursat, telah bertambah menjadi 25.000 keluarga dengan total hingga 80.000 orang,” ungkap Letnan Jenderal Maly Socheata, dikutip Holopis.com, Senin (28/7).
Ia menambahkan sebanyak 536 sekolah telah ditutup yang berdampak pada 130.000 siswa.
Sejak pecahnya bentrokan bersenjata antara tentara Kamboja dan Thailand di wilayah perbatasan yang disengketakan pada Kamis (24/7), lebih dari 30 orang tewas dari kedua belah pihak, dan 100.000 lebih orang telah dievakuasi ke daerah yang aman.
Kedua belah pihak saling menuding bahwa pihak lainnya telah melanggar hukum internasional dan melepaskan tembakan terlebih dahulu.
Saling Tuding Menyerang Duluan
Berdasarkan klaim dari Kementerian Pertahanan Kamboja, Thailand dianggap melanggar perbatasan dengan menaiki Candi Ta Mauen Thom, serta menyusup di bawah candi. Mereka pun menerbangkan drone pengintau di atas wilayah itu.
Kamboja kemudian menuding Thailand telah menembakkan senjata berat ke arah kompleks Candi Ta Muen Thom.
Sementara itu, Thailand mengklaim bahwa Kamboja melepaskan tembakan duluan ke markas operasional Thailand, di wilayah timur kompleks Ta Muen.
Meskipun saling menuding siapa yang melakukan serangan terlebih dahulu, Kamboja mengatapan bahwa pihaknya tetap berkomitmen untuk menyelesaikan konflik secara damai melalui jalur diplomatik, namun juga menegaskan kesiapan total untuk membela kedaulatan nasional sesuai Pasal 51 Piagam PBB.
Di sisi lain, Juru Bicara Angkatan Darat Thailand mengatakan bahwa tindakan balasan mereka adalah bentuk dari perlindungan terhadap personel militer dan warga sipil Thailand.

