JAKARTA – Erupsi gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur berdampak kepada ribuan warga serta sejumlah fasilitas publik.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari menjelaskan, pasca erupsi yang terjadi sejak Kamis (17/7) itu berdampak cukup luas.
Wilayah terdampak mencakup Kecamatan Ile Ape Timur dan Ile Ape. Desa-desa seperti Jontona, Lamatokan, Baolaliduli, Lamaau, Lamagute, Todanara, Waimatan, Lamawolo, dan Aulesa di Ile Ape Timur serta Amakaka, Bunga Muda, Napasabok, Muruona, Laranwutun, Kolontobo, Riangbao, Petuntawa, Waowala, Tanjung Batu, Lamawara, Watodiri, Palilolon, Kolipadan, Dulitukan, Beutaran, dan Tagawiti di Ile Ape turut terpapar abu vulkanik.
“Jumlah warga terdampak tercatat sebanyak 20.777 jiwa, dan proses pendataan masih berlangsung,” kata Abdul Muhari dalam keterangannya yang dikutip Holopis.com, Sabtu (19/7).
Letusan diketahui menghasilkan kolom abu setinggi 200 meter di atas puncak (sekitar 1.623 meter di atas permukaan laut). Kolom berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang dan mengarah ke barat. Aktivitas ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 37,7 mm dan durasi 39 detik.
Abdul menyebut bahwa erugian material masih dalam proses identifikasi oleh pihak berwenang. Menanggapi situasi ini, BPBD Kabupaten Lembata telah mengupayakan berbagai langkah penanganan.
Sejak April hingga Juli 2025, telah dilakukan tiga tahap distribusi masker sebanyak total 16.770 lembar ke 19 desa terdampak. Selain itu, air bersih disalurkan ke delapan desa yang mengalami pencemaran sumber air akibat abu vulkanik.
Abdul menjelaskan bahwa pelayanan kesehatan dioptimalkan di Puskesmas Waipukang dan Lamaau, terutama untuk menangani kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“Rantai komando kesiapsiagaan dibentuk dari tingkat desa hingga RT. Posko-posko didirikan di setiap desa guna memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan apabila terjadi peningkatan erupsi. Komunikasi darurat diperkuat melalui penggunaan radio HT, dan sosialisasi rutin dilakukan di gereja serta Desa Amakaka bersama PVMBG,” jelasnya.
Melalui Keputusan Bupati Lembata Nomor 332 Tahun 2025, wilayah ini ditetapkan berstatus Siaga Darurat Bencana Erupsi selama enam bulan terhitung sejak 3 Juli hingga 31 Desember 2025.
Abdul mengungkapkan bahwa kebutuhan mendesak yang masih diperlukan meliputi masker dan air bersih untuk lebih dari 20 ribu jiwa, alat komunikasi darurat seperti radio HT dan repeater, perlengkapan keselamatan bagi tim penyelamat, kendaraan operasional, serta bantuan logistik berupa makanan siap saji, perlengkapan bayi, selimut, dan paket kebersihan keluarga.
“Masyarakat diimbau untuk tetap waspada namun tidak panik. Suara dentuman merupakan bagian dari aktivitas erupsi dan dapat menyebabkan getaran hingga kerusakan bangunan. Warga diharapkan menggunakan masker dan pelindung diri serta mewaspadai potensi lahar, terutama di wilayah sekitar sungai berhulu dari gunung,” imbaunya.


