JAKARTA – Amerika Serikat secara resmi telah memperkenalkan drone serang nirawak bernama LUCAS (Low‑Cost Uncrewed Combat Attack System). Perangkat tempur drone ini merupakan respons strategis terhadap maraknya penggunaan drone Shahed‑136 buatan Iran di medan konflik Ukraina.
Pengembangan LUCAS dilakukan oleh perusahaan pertahanan SpektreWorks, berbasis Arizona. Sistem ini didesain modular, bersifat “kamikaze” (munisi yang menghantam target satu arah), serta mampu diubah fungsi menjadi drone pengintai atau repeater komunikasi dalam satu paket perangkat murah.
Dalam keterangannya, Sekretaris Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth mengapresiasi perilisan alutsista milik militer pertahanan USA. Hal ini disampaikan saat meninjau langsung drone tersebut di lapangan Pentagon pada 16 Juli 2025
“LUCAS adalah sistem UAS Group 3 yang andal dan cost-effective, dirancang untuk beroperasi dalam kondisi minim dukungan logistik.” kata Pete sepertu dikutip Holopis.com.
Sementara itu, pihak pengembang yakni SpektreWorks telah menegaskan bahwa mereka siap untuk memproduksi massal drone tersebut setelah berhasil melewati uji coba internal.
Drone tersebut dikabarkan memiliki teknologi modular dan open‑architecture. Di mana perangkat tersebut dapat membawa sensor ISR, perangkat ECW (electronic warfare) yang maupun muatan alat peledak sesuai kebutuhan misi.
Karena sifatnya drone, maka perangkat alutsista tersebut bisa dikonrol melalui RATO (rocket-assisted takeoff) atau peluncur berbasis kendaraan lapangan.
Di sisi lain, kelebihan dari LUCAS juga terbilang ringan. Di mana beratnya di bawah 600 kg, dengan sayap delta 2,5–3 meter dan mesin piston, mirip bentuk Shahed‑136 namun punya fungsi tambahan.
Perkenalan LUCAS ini menjadi cerminan perubahan doktrin militer AS menuju sistem attritable, perangkat murah yang bisa digunakan secara massal dan dapat dikorbankan demi misi tanpa kehilangan nyawa pengendalinya.
Berbeda dengan drone mahal, LUCAS diposisikan sebagai alternatif yang bisa dikerahkan dalam jumlah banyak dengan biaya relatif rendah, diperkirakan sekitar USD 100.000 per unit, atau setara Rp1.6 Miliar (dengan kurs Rp16.299/1 Dollar).
Terlebih, drone ini terintegrasi dalam jaringan komunikasi mesh bernama MUSIC, yang menghubungkan unit-unit UAS di medan perang—terutama di wilayah Indo-Pasifik—untuk mendukung operasi saling terhubung dan koordinasi real-time.

