Hari Revolusi Prancis, Awal Mula Runtuhnya Monarki
JAKARTA - Revolusi Prancis adalah salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah dunia modern yang tidak hanya mengguncang Prancis, tetapi juga menginspirasi gerakan demokrasi dan kebebasan di seluruh dunia.
Peringatan hari Revolusi Prancis yang jatuh setiap tanggal 14 Juli, dikenal sebagai La Fête Nationale atau Bastille Day, merupakan simbol runtuhnya kekuasaan absolut monarki dan awal mula perjuangan rakyat untuk keadilan sosial dan pemerintahan berbasis kehendak rakyat.
Latar Belakang Ketegangan Sosial dan Ketidaksetaraan
Menjelang akhir abad ke-18, Prancis mengalami krisis ekonomi dan sosial yang mendalam. Sistem feodal masih mengakar kuat, di mana masyarakat terbagi dalam tiga golongan atau estates: kaum bangsawan, klerus (pemuka agama), dan rakyat biasa (kaum buruh, petani, serta kelas menengah). Dua golongan teratas menikmati hak istimewa dan bebas pajak, sementara beban keuangan negara ditanggung sepenuhnya oleh rakyat biasa.
Kondisi ini diperparah oleh kekacauan fiskal akibat pengeluaran kerajaan yang boros dan utang yang membengkak karena keterlibatan dalam Perang Tujuh Tahun dan dukungan terhadap Revolusi Amerika. Raja Louis XVI yang memerintah saat itu dianggap tidak mampu menangani krisis, dan rasa frustasi rakyat semakin meningkat.
Penyerbuan Penjara Bastille: Titik Balik Sejarah
Pada 14 Juli 1789, rakyat Paris menyerbu Penjara Bastille, sebuah simbol kekuasaan absolut kerajaan. Meski hanya sedikit tahanan yang dibebaskan, penyerbuan ini memiliki makna simbolis yang sangat besar: rakyat bangkit dan mulai melawan sistem yang menindas. Peristiwa ini menjadi pemicu gelombang besar revolusi yang menjalar ke seluruh negeri.
Sejak saat itu, Revolusi Prancis berkembang menjadi perjuangan panjang yang melibatkan penggulingan monarki, pembentukan pemerintahan republik, dan pertarungan ideologis antara berbagai kelompok politik. Tokoh-tokoh seperti Maximilien Robespierre, Georges Danton, dan Jean-Paul Marat muncul sebagai penggerak revolusi, meski tidak sedikit dari mereka juga kemudian menjadi korban keganasan revolusi sendiri.
Pengaruh Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara
Pada bulan Agustus 1789, Majelis Nasional mengesahkan Déclaration des Droits de l'Homme et du Citoyen (Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara). Dokumen ini menjadi tonggak penting dalam sejarah demokrasi modern karena mengukuhkan prinsip-prinsip seperti kebebasan individu, kesetaraan di hadapan hukum, dan hak rakyat untuk menentukan nasib sendiri.
Deklarasi ini tidak hanya menjadi dasar konstitusi Prancis, tetapi juga menginspirasi negara-negara lain dalam memperjuangkan hak-hak sipil dan kebebasan politik. Konsep kedaulatan rakyat dan penolakan terhadap kekuasaan tirani menjadi warisan Revolusi Prancis yang abadi.
Akhir Monarki dan Awal Republik
Pada 21 Januari 1793, Raja Louis XVI dieksekusi dengan guillotine setelah dinyatakan bersalah atas pengkhianatan terhadap negara. Tak lama kemudian, Ratu Marie Antoinette juga mengalami nasib yang sama. Eksekusi tersebut menandai berakhirnya monarki absolut di Prancis dan membuka jalan bagi sistem republik.
Namun, Revolusi Prancis juga diselimuti oleh periode kekacauan yang dikenal sebagai Reign of Terror (1793–1794), ketika ribuan orang dieksekusi karena dianggap musuh revolusi. Setelah jatuhnya Robespierre, revolusi memasuki fase baru hingga akhirnya seorang jenderal muda bernama Napoleon Bonaparte naik ke tampuk kekuasaan dan mendeklarasikan dirinya sebagai Kaisar pada 1804.
Hari Bastille diperingati setiap tahun di Prancis sebagai simbol kemenangan rakyat atas tirani dan semangat kebebasan. Upacara militer terbesar biasanya digelar di Champs-Élysées, Paris, dan disiarkan secara nasional. Selain itu, kembang api, parade rakyat, konser, dan festival meriah turut memeriahkan hari bersejarah ini.