Di sisi lain, kekuatan konsumsi domestik harus menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa, Indonesia memiliki pasar internal yang besar dan potensial. Pemerintah perlu memberikan insentif yang tepat untuk memperkuat daya beli masyarakat, menyederhanakan distribusi antarwilayah, serta menghapus regulasi yang membebani, seperti pajak ganda pada produk lokal. Hal ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo untuk menjadikan ekonomi Indonesia lebih mandiri dan berdaulat.
Haidar juga menekankan pentingnya reposisi diplomasi Indonesia agar negara-negara maju mulai menghormati posisi strategis Indonesia di kancah global. Jika Amerika Serikat dapat menetapkan tarif tinggi secara sepihak, maka Indonesia pun berhak meninjau ulang berbagai bentuk kerja sama yang dianggap tidak adil, termasuk akses data digital, lisensi teknologi, dan kebijakan logistik global.
Lebih jauh, ia mendorong agar pemerintah memperkuat belanja negara melalui APBN untuk menyerap produk dalam negeri, seperti tekstil, furnitur, sepatu, kabel, dan produk unggulan ekspor lainnya. Barang-barang ini dapat digunakan dalam proyek pemerintah, TNI, Polri, sekolah, hingga rumah sakit, sehingga mampu menciptakan efek ekonomi berganda dan menjaga roda industri tetap berputar.
Terakhir, Haidar Alwi menyerukan pentingnya peningkatan nilai tambah dan citra produk Indonesia di pasar global. Ia menegaskan bahwa Indonesia harus berhenti mengekspor barang mentah atau setengah jadi. Produk ekspor harus naik kelas melalui desain inovatif, teknologi tinggi, serta branding yang mencerminkan identitas dan martabat bangsa. Dengan strategi ini, Indonesia akan semakin siap menghadapi tekanan global dan berdiri sebagai negara yang kuat, mandiri, serta bermartabat di bawah kepemimpinan nasional yang visioner seperti yang ditunjukkan oleh Presiden Prabowo.
Jawab Tarif 32% dengan Martabat 100%
Haidar Alwi menekankan bahwa bangsa Indonesia harus menyambut tantangan ini dengan kepala tegak, bukan dengan kompromi yang melemahkan jati diri bangsa.
“Kita pernah dijajah, pernah diembargo, pernah diremehkan, tetapi selalu bisa bangkit. Maka jangan jatuh hanya karena satu kebijakan tarif. Lebih baik kehilangan pasar sementara daripada kehilangan kehormatan selamanya,” tegasnya.
Ia mengajak seluruh pemimpin bangsa, termasuk pemerintah dan pelaku industri, untuk berani mengambil sikap tegas. “Bangun kekuatan nasional, perkuat produksi dalam negeri, dan dorong ekspor yang mandiri. Kalau Trump memberi tarif 32%, maka kita jawab dengan martabat 100%,” pungkas Haidar.

