BULUKUMBA – Peristiwa teragis terjadi di Desa Lolisang, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan pada hari Selasa 1 Juli 2025 malam. Dimana sebuah bom rakitan yang diduga untuk bom ikan meledak. Peristiwa tersebut menewaskan satu orang bernama Jusma (50).
Kabid Humas Diskominfo Bulukumba Andi Ayatullah Ahmad menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas peristiwa tragis ledakan bom ikan rakitan tersebut.
“Kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas peristiwa tersebut. Peristiwa ini menjadi peringatan bagi kita semua tentang bahaya penggunaan bahan peledak untuk aktivitas masyarakat, apalagi jika itu diperuntukkan untuk penangkapan ikan,” ujar Andi Ayatullah, Rabu (2/7/2025) seperti dikutip Holopis.com.
Andi Ayatullah menambahkan pentingnya untuk terus melakukan sosialisasi dan edukasi betapa berbahayanya penggunaan bom ikan bagi kerusakan lingkungan dan keselamatan manusia.
“Selain berbahaya bagi diri sendiri. Bom ikan juga akan merusak ekosistem dan terumbu karang di laut,” pesannya.
Dikonfirmasih terpisah, Kapolres Bulukumba, AKBP Restu Wijayanto, menjelaskan kuat dugaan ledakan berasal dari bom rakitan untuk menangkap ikan.
“Diduga korban sedang merakit bom untuk menangkap ikan,” kata AKBP Restu.
Restu mennambahkan, Tim Penjinak Bom (Jibom) Detasemen Gegana Satuan Brimob Polda Sulsel sudah tiba di lokasi untuk melakukan sterilisasi lanjutan serta pengumpulan barang bukti.
Beberapa barang bukti yang berhasil diamankan di TKP antara lain; Sumbu berwarna merah berisi serat hitam sepanjang 3.000 meter. Enam kotak detonator sumbu (nonel) buatan India sebanyak 592 unit dengan rincian 6 Box, antara lain ; Box 1: 92 pcs dan Box 2–6: masing-masing isi 100 pcs.
“Satu tabung aluminium (58 mm x 6 mm) berisi serbuk warna kuning, 266 batang tabung aluminium kecil (35 mm x 4 mm), Aluminium sisa ledakan, Kapas penutup tabung, Dua buah gunting dalam keadaan rusak,” beber Restu.
Setelah proses sterilisasi oleh Tim Jibom, jenazah korban dievakuasi ke RSUD Sultan Daeng Raja Bulukumba untuk proses identifikasi dan pemeriksaan medis.
Pihak keluarga korban menolak dilakukan autopsi melalui surat pernyataan resmi dan telah memakamkan korban pada Rabu siang. Sementara itu, Detasemen Gegana menegaskan bahwa berdasarkan karakteristik ledakan dan barang bukti yang ditemukan, ledakan tersebut berasal dari bom ikan rakitan.
Kaden Gegana Kompol Mansyur, menjelaskan bahwa kekuatan ledakan yang sampai merusak struktur bangunan, termasuk beton rumah.
“Itu menunjukkan bahwa bahan peledak yang digunakan cukup besar. Barang bukti yang ditemukan berupa handak primer (sumbu api dan detonator), sedangkan handak sekunder (bahan peledak utama) tidak ditemukan di lokasi,” jelas Mansyur.
“Detonator rakitan yang meledak berada di lantai dua, sementara sejumlah detonator pabrikan yang belum meledak ditemukan di lantai dasar atau garasi,” sambungnya.
Dari hasil penyelidikan awal, diduga korban sedang merakit bom ikan sendiri ketika terjadi ledakan. Dugaan sementara, ledakan terjadi akibat kelalaian saat proses perakitan.
“Saat ini, penyidik masih mendalami apakah kegiatan merakit bom ikan tersebut ditujukan untuk kepentingan pribadi atau komersial,” jelasnya.


