Israel Akhirnya Akui Ada Warga Gaza Terluka di Lokasi Penyebaran Bantuan
JAKARTA - Militer Israel mengakui bahwa memang ada warga sipil yang terluka di wilayah distribusi bantuan di mana mereka seharusnya menerima kebutuhan-kebutuhan pokok mereka. Sejak Israel menyabut blokade selama 11 minggu di Gaza, akhirnya pengiriman bantuan dari PBB bisa dilakukan. Namun PBB menjelaskan bahwa ada 400 warga yang meninggal dunia ketika mencari bantuan.
“Menyusul insiden di mana warga sipil yang tiba di fasilitas distribusi dilaporkan terluka, pemeriksaan menyeluruh dilakukan di Komando Selatan dan instruksi dikeluarkan kepada pasukan di lapangan,” demikian disampaikan Juru Bicara Militer Israel, dikutip Holopis.com, Selasa (1/7/2025).
Advokat Jenderal Militer Israel pun dikabarkan sudah memerintahkan penyelidikan atas kemungkinan kejahatan perang atas tuduhan bahwa pasukan Israel dengan sengaja menembaki warga sipil Palestina di dekat lokasi tersebut.
PBB Sudah Katakan Bala Bantuan yang Didukung Amerika Serikat Tidak Aman
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres mengatakan bahwa operasi bantuan yang didukung AS di Gaza sebenarnya tidak aman dan dapat membunuh orang.
“Setiap operasi yang menyalurkan warga sipil yang putus asa ke zona militer pada dasarknya tidak aman, itu membunuh orang,” kata Sekjen PBB Antonio Guterres.
Namun Kementerian Luar Negeri Israel membantah bahwa mereka tidak pernah menargetkan warga sipil. Bahkan Kemenlu Israel menuding PBB memang akan melakukan banyak cara untuk menentang operasi bantuan GHF.
Mereka juga menuding PBB menyelaraskan diri dengan Hamas, yang Israel sebut sebagai organisasi teroris.
“Dengan melakukan itu, PBB menyelaraskan dirinya dengan Hamas, yang juga mencoba menyabotase operasi kemanusiaan GFH,” lanjut mereka.
Sekedar mengingatkan kembali, perang antara Hamas dan Israel meletus setelah Hamas menyandera 251 warga Israel dan membunuh sekitar 1.200 masyarakat Israel pada 7 Oktober 2023. Sebagai balasannya, Israel menyerang Palestina dan hingga saat ini sudah menewaskan lebih dari 56.000 orang, dan sejauh ini belum menyetujui berbagai upaya gencatan senjata.