JAKARTA – Israel masih belum juga menghentikan serangan mereka ke Palestina, meskipun masyarakat tidak berdosa masih terus menjadi korban. Kali ini, tank-tank Israel menembaki kerumunan yang berusaha mencoba mendapatkan bantuan dari truk di Gaza pada hari Selasa 17 Juni 2025 waktu setempat.
Seorang saksi mata mengatakan tank-tank Israel tiba-tiba meluncurkan dua peluru kea rah ribuan orang yang sedang berkumpul untuk mendapatkan makanan dari truk bantuan.
“Tiba-tiba mereka membiarkan kami bergerak maju dan menyuruh semua orang berkumpul. Lalu peluru mulai berjatuhan, peluru tank,” kata seorang saksi yang tidak menyebutkan namanya, dikutip Holopis.com, Rabu (18/6/2025).
Saksi itu mengatakan tidak ada yang melihat warga yang tertembak itu dengan belas kasihan. Padahal mereka sekarat, dicabik-cabik, hanya untuk mendapatkan makanan untuk anak-anak mereka.
“Lihatlah orang-orang ini, semua orang ini dicabik untuk mendapatkan tepung guna memberi makan anak-anak mereka,” kata saksi itu.
Petugas medis Palestina mengatkan, setidaknya 59 orang meninggal dunia dan 221 orang lainnya luka-luka dalam insiden itu. Sementara itu 20 orang dalam keadaan kritis akibat serangan bengis dari tank-tank Israel.
Tak hanya itu, petugas medis mengatakan setidaknya ada 14 orang lainnya meninggal dunia akibat tembakan dan juga serangan udara Israel di daerah lain yang padat penduduk.
Ini disebut sebagai jumlah korban tewas terburuk dalam satu hari sejak bantuan kembali ke Gaza di bulan Mei.
Kementerian Kesehatan yang dijalankan Hamas mengonfirmasi bahwa sebanyak 397 masyarakat Palestina di antara mereka mencoba untuk mendapatkan bantuan makanan, telah meninggal dunia, dan lebih dari 3.000 orang luka-luka sejak akhir Mei.
Sementara itu Kepala hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa Volker Turk mengatakan bahwa Israel memang sengaja menjadikan makanan sebagai senjata serta sengaja memblokir bantuan untuk menyelamatkan nyawa-nyawa masyarakat Palestina.
“Israel telah menjadikan makanan sebagai senjata, dan memblokir bantuan untuk menyelamatkan nyawa,” kata Turk.
Ia pun mengatakan bahwa ini adalah kejahatan luar biasa dari pemerintah Israel, serta sangat merendahkan martabat manusia.
“Retorika yang mengganggu dan merendahkan martabat manusia dari pejabat senior pemerintah Israel, mengingatkan kita pada kejahatan yang paling serius,” kata lanjutnya.
Sebagai informasi Sobat Holopis, GHF yang merupakan organisasi dukungan AS untuk memberikan bantuan di Palestina tidak didukung oleh PBB dan kelompok-kelompok kemanusiaan besar lainnya. Mereka menilai GHF lebih memprioritaskan tujuan militer Israel dibandingkan kebutuhan kemanusiaan yang saat ini terjadi di Palestina.


