JAKARTA – Hubungan yang dulu tampak solid antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan bos Tesla serta SpaceX, Elon Musk, kini berubah menjadi permusuhan terbuka.
Dalam beberapa hari terakhir, pertengkaran antara keduanya mencuat ke publik, lengkap dengan saling sindir di media sosial, ancaman pembatalan kontrak, hingga tudingan skandal yang melibatkan nama besar.
Dalam wawancara terbaru yang dikutip dari ABC News dan dilansir ulang oleh Holopis.com, Trump tampak tidak berminat untuk menjalin komunikasi kembali dengan Musk. Saat ditanya apakah ia akan menelepon Musk dalam waktu dekat, Trump menanggapi dengan sinis.
“Maksudmu orang yang sudah gila itu?” kata Trump dengan nada meremehkan. “Saya tidak terlalu tertarik berbicara dengannya sekarang.”
Trump menyebut bahwa Musk ingin berbicara dengannya, namun dirinya merasa belum siap untuk berhubungan kembali dengan orang yang dulu pernah ia dukung secara terbuka.
Hubungan yang Memburuk Sejak Kritik RUU Pajak
Akar dari konflik ini disebut-sebut bermula dari kritik tajam Elon Musk terhadap sejumlah kebijakan Trump, termasuk rancangan undang-undang pajak dan imigrasi. Musk secara terbuka menyebut bahwa Trump tidak akan bisa memenangkan pemilihan presiden 2024 tanpanya.
Ia bahkan menyuarakan dukungan terhadap pemakzulan Trump dan menuduh sang presiden terlibat dengan Jeffrey Epstein, tokoh kontroversial yang meninggal di penjara akibat kasus pelecehan seksual.
Dalam salah satu unggahan di platform X (dulu Twitter), Musk menulis:
“Tanpa saya, Trump akan kalah. Demokrat akan menguasai DPR, dan Senat akan 51-49. Sungguh tidak tahu terima kasih.”
Tak lama kemudian, ia melanjutkan dengan tudingan yang lebih berat:
“Saatnya menjatuhkan bom besar. Trump ada dalam berkas Epstein. Itulah alasan sebenarnya dokumen-dokumen itu tidak dipublikasikan.”
Pernyataan Musk ini langsung memicu kemarahan kubu Trump.
Trump Ancam Putus Kontrak Pemerintah untuk Elon Musk
Merespons pernyataan tersebut, Trump mengancam akan membatalkan kontrak-kontrak besar yang selama ini dinikmati oleh perusahaan-perusahaan milik Elon Musk, seperti SpaceX, Tesla, dan Starlink. Ia juga menyebut bahwa langkah ini bisa menjadi cara efektif untuk menghemat anggaran negara.
“Cara termudah menghemat miliaran dolar dari anggaran kita adalah menghentikan subsidi dan kontrak pemerintah Elon,” kata Trump. “Saya heran Biden belum melakukannya.”
Diketahui, perusahaan-perusahaan Musk memang memiliki hubungan erat dengan pemerintah AS. SpaceX menjadi mitra utama NASA dan Pentagon dalam berbagai proyek antariksa, sementara Tesla menerima berbagai insentif dan subsidi untuk kendaraan listrik.
Dari Mobil Tesla Merah ke Ancaman Balas Dendam
Menariknya, Trump sebelumnya sempat menunjukkan dukungan pada Musk, bahkan membeli mobil Tesla berwarna merah yang dipajang di Gedung Putih pada Maret lalu, saat Tesla tengah mengalami tekanan finansial. Namun kini, menurut sumber internal di lingkaran Trump, sang presiden sedang mempertimbangkan untuk menjual mobil tersebut sebagai bentuk pemutusan hubungan simbolik dengan Musk.
Salah satu penasihat Trump mengungkapkan bahwa sang presiden justru merasa lebih kecewa dan sedih ketimbang marah, melihat bagaimana hubungan mereka berubah drastis dalam waktu singkat.


