JAKARTA – Program bantuan kelolaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang telah terbukti berjalan dengan baik ternyata masih tetap terhambat. Hal itu tetap terjadi meskipun penangguhan skema bantuan baru untuk Gaza yang didukung Israel sudah memasuki hari kedua.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA) mengatakan pasokan terus mengalir ke perlintasan Kerem Shalom/Karem Abu Salem dari sisi Israel, namun sangat terbatas untuk masuk ke Gaza. Perlintasan tersebut merupakan satu-satunya titik bantuan PBB yang diizinkan oleh Israel.
“Hari ini (Kamis), hanya 20-an truk bermuatan pasokan, sebagian besar bantuan makanan, serta beberapa pasokan kesehatan, yang dikirim ke sisi Israel Kerem Shalom, jumlah yang mencerminkan batas yang diberlakukan oleh otoritas Israel,” kata OCHA, dikutip Holopis.com, Jum’at (6/6).
Tidak ada angka pasti mengenai jumlah truk yang diizinkan untuk mengambil muatan dari 20 kendaraan yang mengangkut pasokan ke Gaza untuk didistribusikan oleh PBB kepada masyarakat setempat.
Sebagai informasi, Organisasi baru yang dikelola oleh Amerika Serikat (AS), Gaza Humanitarian Foundation (GHF), membawa bantuan ke beberapa pusat distribusi yang dimiliterisasi, yang sering kali jaraknya jauh dari masyarakat setempat.
Cara itu berbeda dengan apa yang digambarkan oleh para pejabat PBB sebagai metode yang tepat dan teruji untuk banyak titik distribusi di masyarakat setempat. Sistem PBB tersebut mencegah ribuan orang berdesak-desakan saat menerima bantuan. Awal pekan ini, sejumlah warga Palestina dilaporkan tewas saat mencari bantuan di beberapa titik distribusi baru yang dimiliterisasi.
OCHA mengatakan bahwa setelah 80 hari blokade penuh terhadap masuknya bantuan dan pasokan lainnya, warga di Gaza menderita kelaparan.
“Hal ini menuntut pembukaan segera semua perlintasan dan memungkinkan akses tanpa hambatan bagi sejumlah organisasi kemanusiaan untuk memberikan bantuan dalam skala besar, melalui berbagai rute, dan ke semua daerah di mana orang-orang membutuhkan bantuan,” katanya.
Kantor tersebut mengatakan mitra-mitra bantuannya melaporkan bahwa lebih dari 90 persen keluarga di Gaza tidak memiliki uang tunai yang dibutuhkan untuk membeli makanan yang masih tersisa di pasar. Daging, susu, sayuran, dan buah hampir tidak ada dalam menu makanan masyarakat, dan telur sekali lagi menghilang dari pasar.
Menurut OCHA, otoritas Israel terus menolak pergerakan kemanusiaan pada Rabu (4/6) yang membutuhkan koordinasi. Dari 16 upaya untuk mengoordinasikan pergerakan semacam itu, lima di antaranya ditolak, termasuk pengangkutan air, pengambilan pasokan nutrisi, dan relokasi stok bahan bakar.


